Dolar AS melemah pada sebagian besar mata uang utama awal perdagangan hari Senin 16 Juli. Optimisme yang ada dari positifnya negosiasi perdagangan pada China serta Uni Eropa mendongkrak mata uang-mata uang komoditas serta Euro, walau pasar masih tetap waspada akibat perang dagang pada Beijing serta Washington.
Dolar AS Melemah
Data GDP China yang launching yang tadi pagi tunjukkan perlambatan pada sektor-sektor spesifik, hingga tingkatkan kecemasan akan akibat perang dagang yang peluang akan menghantam China pada semester ke-2 tahun 2018.
Akan tetapi, sesaat jalinan perdagangan pada China serta AS lebih buruk, beberapa negara lainnya malah mempereratnya.
Perdana Menteri China, Li Keqiang, menyampaikan negaranya akan tingkatkan akses pasar serta kurangi bea import dalam rencana menyeimbangkan jalinan dagang dengan Uni Eropa.
Menurut data Reuters, pertemuan tingkat tinggi pada Uni Eropa serta China diekspektasikan membuahkan komunike yang menyatakan prinsip kedua pihak pada system perdagangan multilateral.
Li juga mengungkap jika kedua pihak sepakat untuk bertukar penawaran pasar untuk kali pertamanya hal mana bisa menggiatkan diskusi-diskusi tentang kesepakatan investasi periode panjang.
Berita baik dari negosiasi Uni Eropa-China mengatrol daya tarik mata uang-mata uang berisiko tambah tinggi. Indeks Dolar AS DXY terpantau alami menurunya 0. 07% ke 94. 61 pada perdagangan intraday, sesaat AUDUSD naik 0. 13% ke 0. 7432 serta NZDUSD naik 0. 14% ke 0. 6775.
Pasangan mata uang USDCAD melandai 0. 04% ke 1. 3147, walau harga minyak tertekan disebabkan prospek penambahan suplai di pasar global.
EURUSD juga ikut 0. 10% ke 1. 1695 mendekati launching data Neraca Perdagangan yang akan launching pertengahan session Eropa sore hari ini. Dolar AS cuma dapat bertahan lawan Yen, dengan USDJPY naik 0. 09% ke 112. 43 serta bertahan pada GBPUSD di rata-rata 1. 3239.
Selanjutnya, aktor pasar akan menantikan launching data Penjualan Ritel dari Amerika Serikat nanti malam untuk mengevaluasi kesehatan ekonomi negeri Paman Sam.
Selain itu, kedatangan pimpinan Federal Reserve, Jerome Powell, di depan Kongres di hari Selasa akan dilihat dengan hati-hati manfaat mempertimbangkan kesempatan kenaikan suku bunga ke-3 serta ke empat dalam tahun 2018.







