Perang dan Forex
idnfx (26/07/2026) – Peperangan menciptakan satu hal yang paling dihindari oleh pasar keuangan global: “ketidakpastian”. Ketidakpastian ini memicu pergeseran aliran modal yang masif dan cepat, yang langsung tercermin pada fluktuasi harga mata uang.
Berikut adalah mekanisme utama mengapa konflik geopolitik dan perang sangat memengaruhi pergerakan harga di pasar forex:
Pelarian ke Aset Aman (Safe-Haven Flows)
Saat perang meletus atau eskalasi meningkat, institusi keuangan besar akan mengamankan modal mereka dengan menarik dana dari aset yang berisiko. Modal tersebut dipindahkan ke aset dan mata uang safe-haven—yaitu mata uang dari negara yang memiliki stabilitas ekonomi, politik, serta likuiditas yang sangat dalam.
- Aset yang diuntungkan: Dolar AS (USD), Franc Swiss (CHF), dan Yen Jepang (JPY). Aset komoditas seperti Emas (XAU) biasanya juga akan mengalami lonjakan permintaan (rally).
- Dampak pada chart: Pasangan mata uang mayor yang melawan safe-haven (misalnya EUR/USD atau GBP/JPY) cenderung mengalami aksi jual tajam (sell-off).
Guncangan Harga Komoditas dan Rantai Pasok
Perang sering kali memblokir jalur perdagangan atau melibatkan negara penghasil komoditas utama dunia, yang memicu disrupsi pasokan dan lonjakan harga energi atau pangan.
- Mata uang komoditas: Jika perang membuat harga minyak mentah melonjak, mata uang negara pengekspor minyak seperti Dolar Kanada (CAD) sering kali mendapat dorongan penguatan.
- Mata uang importir: Sebaliknya, mata uang dari kawasan yang sangat bergantung pada impor energi (seperti Euro atau Yen Jepang) akan tertekan parah karena biaya impor mereka membengkak, yang mengancam neraca perdagangan mereka.
Pelarian Modal (Capital Flight) dan Kerusakan Ekonomi
Bagi negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik (atau secara geografis sangat berdekatan), mata uang mereka akan mengalami tekanan jual yang brutal.
- Fasilitas produksi hancur, aktivitas ekspor terhenti, dan pemerintah biasanya terpaksa mencetak uang atau menerbitkan utang dalam jumlah besar untuk membiayai operasi militer.
- Investor asing maupun domestik akan menjual mata uang lokal tersebut dan menukarnya ke mata uang asing untuk menyelamatkan nilai kekayaan mereka. Tingginya suplai tanpa ada demand ini menyebabkan nilai tukar anjlok drastis.
Antisipasi Kebijakan Bank Sentral
Gangguan rantai pasok akibat perang memicu inflasi (kenaikan harga barang secara umum).
- Pasar akan mencoba memprediksi (memfaktorkan) langkah bank sentral. Jika bank sentral terpaksa menaikkan suku bunga secara agresif untuk menekan inflasi tersebut, mata uangnya secara teori bisa menguat.
- Namun, jika perang tersebut mengancam memicu resesi ekonomi, bank sentral mungkin malah melonggarkan kebijakan moneter, yang membuat mata uangnya melemah.
Kesimpulan
Dalam kondisi pasar yang didikte oleh berita perang (news-driven), sentimen fundamental makro akan mendominasi. Harga sering kali bergerak sangat agresif menciptakan gap yang lebar, mengabaikan struktur pasar normal, dan melakukan liquidity sweep berskala besar (memakan area stop-loss) sebelum akhirnya menemukan titik ekuilibrium baru.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif, bukan merupakan saran investasi atau sinyal trading. Perdagangan Valuta Asing melibatkan risiko tinggi yang mungkin tidak cocok untuk semua investor. Pastikan Anda memahami risiko yang terlibat sebelum melakukan transaksi.
– idnfx







