Pasangan USD/JPY terguling sampai seputar 0.2 % ke posisi 108.65 pada perdagangan session Asia.
Kondisi tersebut sebab banyak investor membidik asset safe haven bersamaan eskalasi kebimbangan pada prospek persetujuan dagang AS dengan China.
Tetapi, data ekonomi dalam negeri Jepang malah memvisualisasikan kapasitas ekonomi yang makin jelek.
Laporan GDP preliminer untuk kuartal ke-3 tahun 2019 tunjukkan perkembangan ekonomi Jepang cuma bertambah 0.1 % QoQ, walau sebenarnya aktor pasar menginginkan perkembangan 0.2 %.
Mengakibatkan, perkembangan ekonomi tahunan anjlok dari 1.8 % pada kuartal ke-2 jadi 0.2 % YoY pada kuartal ke-3.
Pelemahan pergerakan perkembangan ekonomi Jepang dilatarbelakangi oleh memburuknya iklim perdagangan global berkenaan dengan perselisihan AS dengan China dan kemelut diplomatik di antara Tokyo serta Seoul.
Sesuai dengan itu, pemerintah Jepang diadukan tengah menyiapkan paket pertolongan untuk mengatasi intimidasi efek global pada perekonomian domestik.
Ekspor akan lemah sebab kurangnya keinginan untuk suku cadang mobil serta elektronik.
Diluar itu, penurunan wisatawan dari Korea Selatan memberi banyak dampak negatif, kata Menteri Ekonomi Jepang, Yasutoshi Nishimura, pada reporter selesai laporan data GDP.
Jalinan di antara Jepang serta Korea Selatan lebih buruk semenjak akhir tahun kemarin, sesudah pengadilan Korsel memerintah perusahaan-perusahaan Jepang untuk membayar kompensasi buat pekerja paksa masa Perang Dunia II.
Konflik itu meluas sampai menggerogoti perdagangan bilateral sebab Tokyo melarang export semikonduktor ke Korsel, walau sebenarnya negeri Ginseng itu adalah partner dagang paling besar ke-3 buat Jepang.
Di lain sisi, Yen Jepang masih di atas angin pada beberapa mata uang mayor.
Investor serta trader yang mengkhawatirkan kekuatan ketidakberhasilan perundingan AS dengan China mulai mengubah dana mereka ke Yen jadi salah satunya asset safe haven dengan Franc Swiss serta Gold.
Media Wall Street Journal memberikan laporan jika China tidak ingin memberi loyalitas tegas tentang berapakah banyak produk agri Amerika Serikat yang akan dibelinya.
Walau sebenarnya, point ini adalah salah satunya dasar perancangan persetujuan dagang fase-1 yang benar-benar penting dalam memastikan apa Presiden AS Donald Trump akan menyetujuinya ataukah tidak.
Menyikapi berita WSJ, ketertarikan efek pasar global langsung berkurang. Yen Jepang kuat pada bermacam asset lain, sedang mata uang komoditas roboh serentak.
Ke depan, aktor pasar akan terus memonitor bermacam isu dari meja perundingan AS dengan China, hingga fluktuasi Yen selalu dikuasai oleh desas-desus berkaitan.






