Pasangan AUD/USD jadi pecundang dalam perdagangan 14/11. Aussie turun sampai lebih dari 0.6 % ke posisi 0.6795 pada Dolar AS pada awal session Eropa, sebab bermacam berita negatif dari berbagai sisi.
Laporan tenaga kerja Australia lebih buruk, sesaat laporan ekonomi China harus tergelincir dari harapan serta proses negosiasi dagang AS dengan China kembali naik-turun.
ABS memberikan laporan jika tingkat pengangguran makin bertambah dari 5.2 % jadi 5.3 % pada bulan Oktober 2019.
Jumlahnya orang kerja alami penurunan sampai 19,000 dalam periode itu. Lebih jelek , penurunan paling besar berlangsung pada barisan pekerjaan penuh waktu.
Tidak ayal, prospek pemotongan suku bunga Australia kuat selesai publikasi laporan.
Perekonomian Australia masih jauh sekali dari sasaran full-employment yang dibanderol RBZ pada 4.5 %.
Apabila bank sentra ingin memakai kebijaksanaan moneter untuk menggerakkan perekonomian mengarah itu, karena itu mereka punyai banyak pekerjaan yang butuh dikerjakan, tegas Justin Smirk.
Salah satunya bank paling besar di lokasi Antipodean ini memandang RBA belum memotong suku bunga dalam tempo dekat, tapi meramalkan suku bunga akan jatuh sampai 0.5 % pada bulan Februari 2020.
Laporan ketenagakerjaan Australia diikuti dengan launching data-data produksi industri, penjualan ritel, serta investasi asset masih yang melemah di China.
Meskipun data-data itu masih tunjukkan perkembangan moderat, tapi angka-angkanya tidak berhasil penuhi harapan pasar.
Aktor pasar langsung kembali mengkhawatirkan efek perang dagang pada perkembangan ekonomi global, salah satunya sebab China berpartner dagang dengan beberapa sekali negara lain, terhitung Australia.
Selain itu, prospek kesuksesan negosiasi dagang AS dengan China ditanyakan.
Media Wall Street Journal memberikan laporan jika China tidak ingin memberi loyalitas tegas tentang berapakah banyak produk agri Amerika Serikat yang akan dibelinya.
Walau sebenarnya, point ini adalah salah satunya dasar perancangan persetujuan dagang fase-1 yang benar-benar penting dalam memastikan apa Presiden AS Donald Trump akan menyetujuinya ataukah tidak.
Menyikapi berita WSJ, ketertarikan efek pasar global langsung berkurang. Yen Jepang kuat pada bermacam asset lain, sedang mata uang komoditas roboh serentak.






