Pada saat perdagangan hari Senin, pound sterling tutup beberapa kerugian setelah sebelumnya tergelincir pada dolar AS sepanjang tiga minggu berturut-turut, tetapi tiap-tiap kenaikan kuat mata uang itu bisa terjegal dari ketidakpastian kelanjutan di sekitar perbincangan Brexit serta ketidakstabilan pada Partai Konservatif yang tengah memerintah UK.
Beberapa investor memonitor negosiasi pada sekitar hubungan masa depan dari UK dengan Uni Eropa disebabkan efeknya bukan sekedar pada keyakinan usaha serta perkembangan ekonomi, tetapi juga peluang kenaikan suku bunga selanjutnya, sesudah ketentuan Bank of England /BoE menambah suku bunga pada minggu kemarin.
Keterangan dari Gubernur BoE Mark Carney menyebutkan pada hari Kamis kalau bank itu berencana kenaikan suku bunga selanjutnya dalam tiga tahun ke depan, tetapi hasil perundingan Brexit tetaplah jadi aspek yang membuat kebijakan tingkat suku bunga yang akan datang.
” Semuanya anggapan BoE sekarang ini didasarkan pada Brexit transisi yang mulus, ” tegas Craig Erlam, analis pasar untuk perusahaan dari perdagangan valuta asing OANDA.
” Jadi, bila kita mengalami kesusahan, itu juga akan jadi negatif untuk pound, disebabkan juga akan jadi potensi kalau dua kenaikan suku bunga mungkin saja tidak terwujud, ” lebih Erlam.
Sterling selesai naik 0, 76 % pada dolar AS pada Senin di $1, 3174, sesudah jatuh sepanjang tiga minggu secara berturut-turut. Sterling juga menghimpit euro hingga pasangan EUR/GBP selesai turun 0, 73 % di £0, 8813.
Grup lobi usaha paling kuat di UK menekan Perdana Menteri UK Theresa May hari Senin untuk memberi kejelasan mengenai bagaimana Brexit juga akan bekerja, tetapi PM May cuma menyikapi dengan sedikit perincian terkecuali mengulangi gagasan untuk mencari perjanjian transisi sesegera mungkin saja.
Grup itu, Confederation of British Industry (CBI), menyebutkan pada hari Minggu kalau nyaris dua dari tiga perusahaan UK juga akan mempunyai gagasan darurat pada bulan Maret untuk bersiap hadapi peluang jelek kalau UK meninggalkan Uni Eropa tanpa ada perjanjian apa pun (no deal Brexit).
UK juga akan masuk sesi selanjutnya dari negosiasi Brexit dalam akhir minggu ini, dimana tema perlu dari hubungan dagang untuk masa depannya dengan Uni Eropa juga akan dibicarakan untuk pertama kalinya.
Tetapi, sistem itu masuk masa ketidakstabilan, disebabkan Westminster juga tengah dipusingkan dari skandal pelecehan seksual yang mengakibatkan pengunduran diri seseorang tokoh profil tinggi, yang meneror tempat sebagian besar kemampuan politik PM May yang sangatlah lemah.







