Poundsterling tergelincir dalam perdagangan ini hari 31/5 karena bermacam pertaruhan tentang siapa tokoh yang akan menukar Theresa May jadi Pertama Menteri Inggris.
Pasangan GBP/USD turun lebih dari 0.1 % ke rata-rata 1.2594, posisi terendahnya semenjak bulan Desember 2018. GBP/JPY bahkan juga roboh 0.85 % ke posisi 137.03, sesaat EUR/GBP naik 0.35 % ke posisi 0.8858.
Bursa calon alternatif Theresa May sudah dibuka, sesudah dia menginformasikan kesiapannya untuk mengundurkan diri dalam bulan Juni. Tetapi, ada kecemasan kalau-kalau figur substitusinya semakin lebih pilih No-Deal Brexit daripada pilihan skenario brexit yang lebih lunak.
Menurut situs partai Konservatif Inggris, Jeremy Hunt, satu diantara tokoh yang menampik No-Deal Brexit memperoleh suport terbesar di kelompok anggota parlemen Inggris. Tetapi, hasil polling pada anggota partai Konservatif biasa malah memberikan indikasi jika tokoh pro-Brexit Boris Johnson adalah calon favorite mereka.
Outlook politik Inggris jelas sekali masih tegang. Konsentrasi mayor pertama buat investor GBP ialah penentuan pemimpin partai Konservatif, yang hasilnya diekspektasikan ada pada bulan Juli.
Jika pemimpin yang baru memandang ‘No-Deal Brexit’ adalah pilihan yang dapat diambil pada bulan Oktober, karena itu GBP dapat diekspektasikan jatuh ke posisi paling rendah bulan Desember lalu, kata Jane Foley, ahli taktik dari Rabobank London.
Dalam pandangan kami, GBP masih ringkih dalam periode pendek sebab kecemasan jika PM yang akan ambil tempat lebih keras tentang brexit, sambungnya.
Bahkan juga, dia memprediksi ada kesempatan nilai ganti Pounds pada Euro untuk jatuh ke 1:1, rekor paling rendah selama hidup, jika No-Deal Brexit betul-betul berlangsung.
Seperti didapati, skenario No-Deal Brexit sudah lama jadi inti kecemasan investor serta trader. Permasalahannya, jika Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa ada satu persetujuan tersendiri, karena itu arus perdagangan di antara kedua pihak akan kembali jatuh ke ketentuan dagang ala WTO.
Walau sebenarnya, ketetapan yang termuat dalam ketentuan WTO lebih jelek daripada aturan-aturan perdagangan yang sekarang ini berlaku buat Inggris jadi anggota Uni Eropa.
Dengan begitu, skenario ini punya potensi mengakibatkan kerusakan outlook perekonomian Inggris serta menyebabkan pelemahan Poundsterling dengan mencolok.







