- Anjloknya Harga Minyak
Minyak adalah sumber kekayaan utama Venezuela. Komoditas ini jadi sumber penghasilan utama negara sekaligus juga penyedia lapangan kerja besar didalam negeri.
Saat harga minyak naik sampai melebihi USD100 per barel pada 2011-2013, Venezuela alami waktu kejayaannya sampai pemerintah bisa meluncurkan beberapa subsidi yang memunculkan kesan-kesan perkembangan serta pembangunan tinggi.
Akan tetapi, saat harga minyak anjlok sampai mendekati USD50 per barel dalam tahun 2014, efeknya memukul Venezuela dengan drastis
- Merosotnya Nilai Ganti Bolivar

Bersamaan dengan mengemukanya cacat perekonomian Venezuela yang mempunyai ketergantungan tinggi pada komoditas minyak, nilai ganti mata uangnya turun.
Pada tahun 2015, nilai ganti ada pada 175 Bolivar per Dolar AS. Akan tetapi, hari ini, kurs Bolivar sudah sampai 143, 640 per Dolar AS. Bahkan juga, grafik harga tidak lagi dapat memvisualisasikan kenaikannya dengan dapat diterima akal.
- Kekosongan Kas Negara
Diatas kertas, Krisis Venezuela mulai tampak hidungnya pada awal November 2017, waktu Presiden Maduro mengaku jika negaranya tidak dapat melunasi semua utang-utangnya.
asalahnya, saat harga minyak tinggi, mereka ambil banyak utang dengan harapan akan dibayar saat nantinya ada pemasukan dari export minyak. Akan tetapi, nyatanya penghasilan yang di terima sekarang tidak dapat menyeimbangi beban utang.
- Krisis Pangan Domestik
Demonstrasi berturut-turut, kekerasan yang menjalar, serta restriksi sumber daya contohnya kuota pemakaian listrik membuat produksi dalam negeri tersendat-sendat. Mengakibatkan, supply pangan mandek. Minimarket serta pasar kosong kehabisan persediaan.
Bahkan juga, diberitakan kalaupun untuk temukan sekantong gandum saja, seorang mesti keliling kota sepanjang hari. Juga, sesudah temukan toko yang masih tetap menyediakannya antrian mengular, pembelian dibatasi, serta dipantau oleh tentara.
Antrian Hipermart Waktu Krisis Venezuela

Jalan keluar sangat cepat untuk memecahkan krisis Venezuela yang menyebabkan kelaparan massa semacam ini yaitu dengan mengimpor dari negara lainnya. Akan tetapi, kosongnya kas negara serta jatuhnya kurs Bolivar membuat Venezuela tidak dapat menghadirkan pangan dari mana saja.
Pada step setelah itu, masyarakat yang terasa tidak dapat lagi bertahan hidup, mulai eksodus besar-besaran ke beberapa negara tetangganya. Mengakibatkan, produktivitas dalam negeri lumpuh serta krisis Venezuela semakin menggila.
- Instabilitas Politik Serta Salah Kebijakan
Presiden Maduro menuduh krisis Venezuela ini adalah tingkah Amerika Serikat serta dunia internasional yang mengaplikasikan hukuman atas negaranya.
Ia juga menampik untuk lakukan penghematan contohnya memotong subsidi BBM walau jelas-jelas negaranya kehabisan persediaan dana mungkin karena tidak ingin penguasaan politiknya goyang.
Alih-alih mengaplikasikan pengetatan aturan, Maduro justru cetak uang semakin banyak. Walau sebenarnya, tidak perduli berapakah uang banyak yang tersebar, krisis takkan teratasi karena tidak ada cukuplah persediaan barang di market untuk penuhi keperluan penduduk.
Mengakibatkan, krisis Venezuela semakin lebih buruk serta tidak terlihat lagi ujung-pangkalnya. Sekarang pemerintah malah mencari pilihan inovatif seperti membuat mata uang kripto Petro dengan agunan persediaan minyaknya.
Namun, dapat dipercaya Petro tidak disadari di mata internasional. Tidak patah keinginan, belakangan ini Maduro juga berencana redenominasi mata uang.
Redenominasi akan dikerjakan dalam beberapa minggu yang akan datang, dengan sasaran memotong lima 0 diatas kertas. Akan tetapi, lagi beberapa ahli sangsi apa ini bisa akhiri krisis Venezuela, karena semua kebijakan yang diaplikasikan bukan jalan keluar buat akar masalahnya.







