Harga minyak mentah menurun di Asia pada hari Jumat kemarin yang segar dari penurunan semalam yang tajam di AS sesudah OPEC perpanjang penurunan produksi sembilan bulan lagi seperti yang diinginkan serta pasar dengan cepat mengambil keuntungan atas kenaikan yang dibuat menjelang ketentuan itu.
Di New York Mercantile Exchange crude futures untuk pengiriman Juli turun 0, 27% jadi $48,77 per barel, sesaat di London Intercontinental Exchange, Brent paling akhir quoited turun 0, 41% jadi $ 51, 25 per barel. Tetapi, dari keterangan satu analis menyampaikan penurunan itu dapat terbukti dengan berumur yang tidak panjang.
“Ini yaitu sedikit reaksi terlalu berlebih. Pasar tengah menuju penyeimbangan kembali di Q3 serta Q4 tahun ini, ” kata direktur penelitian Wood Mackenzie untuk penyulingan Asia, Sushant Gupta.
Semalam, harga minyak mentah berjangka dibawah $ 50, jatuh nyaris 5%, sesudah OPEC serta ketentuan sekutunya untuk perpanjang pengurangan produksi sepanjang sembilan bulan lagi, tidak berhasil penuhi harapan beberapa pedagang kalau grup kartel akan menginformasikan lebih dalam Luka.
Anggota OPEC serta non-OPEC setuju untuk perpanjang pemotongan produksi untuk periode sembilan bulan hingga Maret pada hari Kamis, sesudah penurunan produksi yang disetujui pada bulan November tahun lalu tidak berhasil mengatur kekenyangan pasokan, yang sudah menekan harga minyak sepanjang nyaris tiga tahun.
Perpanjangan sembilan bulan sudah diantisipasi dengan cara luas tetapi beberapa pedagang mengharapkan kalau OPEC bakal mengambil pendekatan yang lebih agresif untuk mengekang keunggulan supply dengan pemotongan yang lebih dalam, sesudah berlangsung kenaikan output non-OPEC.
OPEC, bagaimanapun, menginformasikan kalau tak ada anggota non-OPEC baru yang bakal berhimpun dalam perjanjian global untuk kurangi supply serta bakal mematuhi pengurangan produksi 1, 8 juta barel /hari pada akhir November.
Presiden OPEC serta menteri energi Arab Saudi Khalid Al-Falih menyampaikan tingkat sekarang ini cukup untuk “mencapai rata-rata lima tahun pada akhir tahun” serta diprediksikan meraih target sebelumnya akhir tahun.
Falih menyampaikan kalau dia memprediksi “pengembalian yang sehat” untuk serpih AS serta tetaplah menantang kalau ledakan di serpih AS akan tidak menggagalkan usaha OPEC untuk menangani tuntutan serta ketidakseimbangan supply.







