Harga minyak telah bergerak terpukul mundur pada hari Rabu setelah melonjak ke titik tertinggi dalam tujuh tahun terakhir pada sesi sebelumnya karena menjadi cukup jelas bahwa gelombang pertama sanksi dari AS dan Eropa terhadap Rusia karena sudah mengirim pasukan ke wilayah Ukraina timur.
Pada waktu yang sama, sebuah potensi kembalinya lebih banyak minyak mentah dari Iran ke pasar, dengan Teheran dan kekuatan dunia yang hampir mampu menghidupkan kembali perjanjian nuklir, juga membatasi kenaian harga.
Harga minyak mentah berjangka malah bergerak naik
Harga untuk minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) AS naik sebesar 18 sen, atau 0,19%, menjadi seharga $92,09 per barel, setelah mencapai titik $96 pada hari Selasa.
Harga untuk minyak mentah berjangka jenis Brent naik sebesar 26 sen, atau sekitar 0,27%, menjadi seharga $97,10 per barel, setelah mampu melonjak setinggi $99,50 pada hari Selasa lalu, tertinggi sejak bulan September 2014 lalu.
Harga yang melonjak pada hari Selasa di tengah kekhawatiran bahwa sanksi dari barat terhadap Rusia karena telah mengirim pasukan ke dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur dapat mempengaruhi jumlah pasokan energi, tetapi pihak Amerika Serikat menjelaskan bahwa tidak akan ada suatu dampak pada ekspor energi.
Sanksi yang dijatuhkan oleh pihak Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Australia, Kanada dan juga Jepang pada hari Selasa difokuskan pada bank dan keluarga elit Rusia sementara Jerman juga menghentikan proyek pipa gas besar dari Rusia sebagai tanggapan atas salah satu tejadinya krisis keamanan terburuk di Eropa dalam beberapa dekade. .
Penurunan harga lebih lanjut adalah suatu kemungkinan kembalinya lebih dari 1 juta barel per hari komoditas minyak mentah dari Iran, karena para diplomat telah mengatakan Iran dan kekuatan dunia hampir mencapai kesepakatan untuk mencoba mengekang program nuklir Teheran.
Anggota lain dari pihak Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu mereka, telah mencba berjuang untuk memenuhi target dari produksi mereka karena kurangnya sejumlah investasi dalam infrastruktur minyak, dan phak Iran sendiri dapat menghadapi masalah yang sama.
Sejumlah analis pasar perdagangan juga memperkirakan harga minyak akan mencermati dahulu perkembangan dari krisis Ukraina-Rusia, yang jika dapat meningkat akan dapat memicu perkiraan dari pengetatan produksi dan dapat meningkatkan harga dari komoditas minyak. Namun jika ketegangan mampu mereda akan dapat membuat harga dari minyak mundur.






