Menurut keterangan ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius berfikir kalau dolar AS peluang juga akan melemah tajam, paling tidak pada mata uang paling utama dunia serta mungkin saja juga pada mata uang negara-negara berkembang walau the Fed miliki gagasan kenaikan suku bunga di tahun ini.
Mata Uang AS, dolar atau greenback, diputuskan beberala ekonom jadi mata uang yang masih tetap melemah di tahun ini walau ada gagasan Federal Reserve bisa menambah suku bunganya dalam 12 bulan ke depan.
Lingkungan begini umumnya susah untuk lihat animo greenback yang besar hingga biasanya kenaikannya juga berbentuk lembut. Seperti kita kenali, kemampuan dolar AS di tahun yang kemarin alami penurunan sekitaran 10%, terutama pada euro, dimana the Fed juga menambah suku bunganya sejumlah 3 kali serta ada pemotongan pajak.
Menanjaknya suku bunga dengan teori bisa tingkatkan mata uang karena bisa mendorong investor berduyun-duyun ke negara itu dengan mengantisipasi aset dan surat hutang dari yield atau imbal hasil yang akan semakin lebih tinggi.
Tetapi Hatzius yakin kalau sekarang ini keadaan perkembangan ekonomi global begitu terkait satu dengan yang beda, dimana bank sentral yang beda juga menginginkan mendorong suku bunga referensinya lebih tinggi, hingga ini kurangi daya tarik ke AS.
Jane Foley, selaku kepala strategj forex yang ada di Rabobank, menyebutkan kalau dolar AS peluang susah untuk menguat tajam di tahun ini walau ada kenaikan suku bunga the Fed, ini dikarenakan sebagian negara beda memiliki kemampuan ekonomi yang menguat seperti misalnya zone euro serta Inggris dengan sinyal kalau ECB serta BoE kurangi stimulus mereka diakhir tahun kemarin.
Banyak ekonom dunia yang mengutip keadaan itu juga adalah hasil kebijakan ekonomi serta politik Presiden Trump. Ada seperti kesangsian yang menerpa Trump hingga investor internasional terasa malu dengan keadaan di AS termasuk juga kesangsian investor lihat ketahanan ekonomi yang tengah berjalan sekarang ini, sekian ungkap Bill Blain, paka taktik pasar modal dari Mint Partners.
Status safe haven dolar AS juga akan selekasnya hilang dalam periode pendek, di dalam semuanya ketidakpastian itu, terlebih AS tidak mempunyai surplus keuangan atau aturan yang ideal hingga tempat yang aman di AS semakin dipertanyakan, tambah Foley.
Foley juga menerangkan dengan kenyataan kalau banyak bank sentral dari G10 yang lain bisa selekasnya meninggalkan kebijakan moneter yang begitu akomodatif atau semkain mudah dari suku bunga yang sangat rendah, hingga hal semacam ini juga kurangi akibat atau dampak suku bunga tinggi dari the Fed.
Tetapi demikian sebaliknya, zone euro memiliki kekuatan yang akan lebih baik serta semakin besar dalam soal surplus aturan itu hingga euro beberapa waktu terakhir jadi tempat pengaman sementara untuk investor.







