Beranda Analisa Forex Analisa Forex Fundamental XAU/USD Tertekan, USD Koreksi Setelah Data PCE AS (30/09/2026)

XAU/USD Tertekan, USD Koreksi Setelah Data PCE AS (30/09/2026)

1
0
XAU/USD, USD

idnfx (30/09/2026) – Hari ini market kembali dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat, terutama inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan yield Treasury. Pasar juga mencermati perkembangan ekonomi Inggris dan Australia yang turut menggerakkan sejumlah major pairs.

XAU/USD Tertekan Meski Inflasi AS Lebih Rendah dari Ekspektasi

Harga emas atau XAU/USD sempat menguat setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan. Namun, kenaikan tersebut tidak bertahan hingga perdagangan berikutnya.

Reuters melaporkan spot gold turun sekitar 0,7% menjadi US$4.152,86 per troy ounce pada pukul 17:40 GMT. Emas juga tercatat turun sekitar 6,6% sepanjang September. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup naik 0,2% pada US$4.186,70.

Data BEA menunjukkan indeks PCE naik 0,3% secara bulanan pada Agustus, sedangkan core PCE meningkat 3,0% secara tahunan. Data tersebut sempat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober.

Namun, kenaikan harga energi dan tetap tingginya imbal hasil obligasi AS kembali memberikan tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.

USD Mengalami Koreksi Setelah Data PCE

Dolar AS bergerak relatif datar hingga melemah terhadap sejumlah mata uang utama setelah data inflasi dirilis. Reuters melaporkan PCE meningkat 3,4% secara tahunan pada Agustus, sama dengan angka Juli setelah revisi, tetapi lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 3,7%.

Perkembangan tersebut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Fed pada pertemuan Oktober. Pada hari ini, kontrak berjangka menunjukkan peluang kenaikan suku bunga Oktober sekitar sepertiga, meskipun pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan pada Desember.

Di sisi lain, ekonomi AS masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. BEA memperkirakan GDP riil AS pada kuartal II 2026 tumbuh 2,2% secara annualized, naik dari estimasi sebelumnya. Konsumsi, investasi, dan ekspor menjadi sejumlah kontributor terhadap pertumbuhan tersebut.

Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif membuat arah kebijakan Fed masih menjadi perhatian utama pasar forex.

GBP/USD Menguat Setelah Revisi GDP Inggris

GBP/USD menjadi salah satu major pair yang bergerak positif hari ini.

Data Office for National Statistics (ONS) menunjukkan ekonomi Inggris tumbuh 0,5% pada kuartal II 2026, direvisi naik dari estimasi sebelumnya sebesar 0,4%.

Sterling kemudian menguat sekitar 0,4% menjadi US$1,3292 dan mencapai level tertinggi terhadap euro sejak pertengahan Agustus. Pergerakan tersebut turut didukung komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang menyatakan tidak ada kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga kembali.

Meski demikian, penguatan pound hari ini terjadi setelah GBP/USD mengalami tekanan cukup besar sepanjang September.

USD/JPY Melemah, Yen Mendapat Dukungan

USD/JPY juga bergerak turun ketika dolar mengalami koreksi setelah publikasi data inflasi AS.

Pada perdagangan Asia, yen sempat menguat sekitar 0,6% hingga area 156,38 per dolar sebelum sebagian penguatan tersebut berkurang. USD/JPY kemudian berada di sekitar 156,91 dalam perdagangan tersebut.

Selain data AS, pergerakan yen turut dipengaruhi oleh perhatian pasar terhadap pelemahan mata uang Jepang dan arus transaksi akhir kuartal.

AUD/USD Tertekan Setelah Inflasi Australia Naik

Australia juga menjadi perhatian pasar forex setelah data inflasi Agustus dirilis.

Australian Bureau of Statistics mencatat CPI Australia meningkat 0,4% secara bulanan dan 4,0% secara tahunan pada Agustus, naik dari 3,5% pada Juli. Sementara itu, trimmed mean inflation berada di 3,6% secara tahunan.

Meski inflasi tetap tinggi, angka bulanan 0,4% berada di bawah perkiraan 0,5%. Reuters melaporkan dolar Australia sempat melemah sekitar 0,2% setelah data tersebut dirilis.

Sebelumnya, Reserve Bank of Australia telah menaikkan suku bunga ke level 4,60%, sehingga data inflasi menjadi penting dalam menilai kemungkinan kebijakan berikutnya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pasar masih sangat sensitif terhadap prospek kebijakan moneter AS.

Data PCE yang lebih rendah dari perkiraan membantu menekan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dalam waktu dekat dan menyebabkan dolar AS mengalami koreksi. Kondisi tersebut sempat memberikan dukungan terhadap XAU/USD dan sejumlah mata uang utama.

Namun, XAU/USD akhirnya kembali tertekan karena kenaikan harga energi dan tingginya yield obligasi AS. Spot gold ditutup pada area US$4.152,86 per ounce dalam laporan Reuters, sekaligus mencatat penurunan sekitar 6,6% sepanjang September.

Di pasar valuta asing, GBP/USD memperoleh dukungan dari revisi pertumbuhan ekonomi Inggris, USD/JPY melemah seiring penguatan yen, sementara AUD/USD menghadapi tekanan setelah inflasi Australia meningkat menjadi 4,0% secara tahunan.

Dengan demikian, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data tenaga kerja AS dan indikator inflasi berikutnya, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve dan arah dolar AS.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif, bukan merupakan saran investasi atau sinyal trading. Perdagangan Forex melibatkan risiko tinggi yang mungkin tidak cocok untuk semua investor. Pastikan Anda memahami risiko yang terlibat sebelum melakukan transaksi.

– idnfx

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses