
Yen Jepang turun drastis pada hari Selasa pasca Bank of Japan (BoJ) mengambil keputusan untuk mempertahankan sikap ultra-dovish. Kemudian, BoJ juga tidak memberikan pertanda tentang rencana pivot. Sedangkan untuk mata uang Asia yang lebih luas teredam, karena adanya dampak reli pasca-Federal Reserve mereda.
Ketahanan dolar ini jelas saja memberikan beban tersendiri terhadap unit-unit regional. Ini bisa terjadi, karena beberapa pejabat Fed telah meremehkan antusiasme jika saja penurunan suku bunga oleh bank sentral akan segera terjadi.
Penurunan Drastis Yen Pasca BoJ Bersikap Dovish
Yen yang merupakan salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada hari ini, mengalami penurunan sebesar 0,6%. Hal ini terjadi, setelah BoJ mengambil keputusan untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat negatif. Kemudian, BoJ tidak memberikan gambaran terkait kapan mereka mengambil rencana untuk mulai melakukan pengetatan kebijakan.
Akan tetapi, bank sentral sudah memberikan peringatan bahwa inflasi Jepang kemungkinan akan tetap stabil dalam beberapa bulan mendatang. Ini menjadi sebuah tren yang tentu saja bisa membuat bank berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk memperketat kebijakan.
Walaupun Gubernur Kazuo Ueda sudah memberikan beberapa gambaran tentang peluang pengetatan kebijakan pada tahun 2024. Tentu saja dia sudah memberikan ketegasan kembali perlunya kebijakan ultra-longgar dalam jangka pendek. Untuk alasan utamanya ialah semakin meningkatnya risiko ekonomi terhadap Jepang. Bahkan dari sini BOJ juga sudah mengumumkan sikap ini pada hari Selasa.
Di balik peristiwa ini, beberapa mata uang Asia tidak bisa berkutik sama sekali. Misalnya saja dolar Australia hanya mampu naik sebesar 0,2 persen, yuan China turun sebesar 0,1 persen, won Korea Selatan turun sebesar 0,1 persen dan rupee India yang hanya datar tetapi diperdagangkan di atas rekor terendah yang sudah dicapai bulan lalu.





