idnfx (25/09/3036) – USD/JPY menjadi sorotan pada penutupan market minggu ini. Dolar masih berada dalam tren penguatan mingguan, didukung kenaikan imbal hasil Treasury AS dan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Namun, yen mulai mendapatkan dukungan setelah Jepang kembali menegaskan perhatian terhadap pelemahan mata uangnya.
Reuters melaporkan bahwa dolar berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut, sementara yen menguat setelah sebelumnya berada di sekitar level terlemah dalam tiga minggu.
USD/JPY: Risiko Intervensi Kembali Menjadi Perhatian
Pergerakan USD/JPY hari ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan dari Jepang.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kekhawatiran mengenai pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pernyataan tersebut menambah perhatian pasar terhadap kemungkinan respons pemerintah Jepang apabila pelemahan yen berlanjut.
Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa prinsip koordinasi intervensi valuta asing antara Jepang dan AS yang disepakati sebelumnya masih berlaku. Karena itu, pelaku pasar tetap memperhatikan risiko intervensi ketika USD/JPY bergerak menuju area yang dianggap sensitif oleh pasar.
Pada awal sesi Jumat, USD/JPY berada sekitar 158,8 yen per dolar, menurut laporan Reuters. Yen kemudian mendapatkan dukungan setelah munculnya pernyataan mengenai perhatian pemerintah Jepang dan AS terhadap pelemahannya.
Kebijakan BOJ Tetap Menjadi Faktor Penting
Bank of Japan sebelumnya menaikkan suku bunga kebijakannya menjadi 1,25% pada 18 September 2026 dari sebelumnya 1%. Keputusan tersebut diambil dengan suara 7-2 dan membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi dalam sekitar 31 tahun.
Namun, kenaikan suku bunga tersebut belum langsung menghasilkan penguatan yen yang berkelanjutan. Reuters melaporkan bahwa pasar menilai panduan BOJ belum cukup hawkish untuk memastikan percepatan kenaikan suku bunga berikutnya. Dua anggota dewan berbeda pendapat terhadap keputusan kenaikan tersebut.
Situasi tersebut membuat USD/JPY berada di antara dua kekuatan fundamental: yield AS dan ekspektasi kebijakan Fed mendukung dolar, sedangkan kebijakan BOJ dan risiko intervensi memberikan dukungan kepada yen.
Dolar AS Tetap Mendapat Dukungan dari Yield dan Ekspektasi Fed
Secara keseluruhan, dolar AS masih kuat. Reuters melaporkan bahwa dolar berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut karena kenaikan Treasury yields dan meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Sejumlah pejabat Federal Reserve juga memberikan komentar yang relatif hawkish. Reuters melaporkan bahwa Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia Anna Paulson menilai pengetatan tambahan yang moderat mungkin diperlukan, sementara Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyebut kenaikan suku bunga tambahan dapat diperlukan sebelum akhir tahun.
Kondisi tersebut menjaga daya tarik dolar terhadap sejumlah mata uang utama.
EUR/USD dan GBP/USD Masih Tertekan
Penguatan dolar terlihat jelas pada pasangan mata uang Eropa.
EUR/USD sempat mencapai sekitar 1,1370, level terendah dalam dua bulan. Reuters menyebut euro berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut.
Sementara itu, GBP/USD berada di sekitar 1,3220 dan mendekati level terendah dalam tiga bulan. Pound juga berada di jalur untuk mencatat kinerja mingguan terlemah dalam sekitar empat bulan.
Pergerakan kedua pasangan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan dolar pada periode tersebut tidak hanya terjadi terhadap yen, tetapi juga terhadap mata uang utama Eropa.
AUD/USD dan NZD/USD
Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga menjadi perhatian pasar hari ini. Reuters mencatat AUD/USD berada sekitar 0,7015, sedangkan NZD/USD sekitar 0,5663.
AUD juga menjadi salah satu mata uang yang paling tertinggal terhadap dolar AS sepanjang minggu tersebut menurut data pasar FXStreet.
Untuk Australia, pasar juga menantikan keputusan Reserve Bank of Australia berikutnya. Ekspektasi pasar pada saat itu mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Data Sentimen Konsumen AS
Data ekonomi AS yang dirilis pada periode tersebut juga menunjukkan tekanan terhadap sentimen konsumen.
University of Michigan mencatat indeks sentimen konsumen September 2026 pada 47,8, turun dari 51,7 pada Agustus. Ekspektasi inflasi satu tahun meningkat menjadi 4,6%, sedangkan ekspektasi inflasi lima tahun berada di 3,4%.
Kombinasi sentimen konsumen yang melemah dan ekspektasi inflasi yang meningkat menjadi salah satu informasi penting bagi pasar ketika menilai arah kebijakan Federal Reserve.
Kesimpulan
USD/JPY menjadi salah satu fokus utama pasar forex setelah yen mendapatkan dukungan dari meningkatnya perhatian terhadap pelemahan mata uang Jepang.
Di sisi lain, dolar AS masih mempertahankan kekuatannya secara mingguan berkat kenaikan Treasury yields dan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. EUR/USD dan GBP/USD berada di dekat level terendah masing-masing dalam beberapa bulan, sementara AUD/USD dan NZD/USD juga masih menghadapi tekanan dari kekuatan dolar AS.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif, bukan merupakan saran investasi atau sinyal trading. Perdagangan Forex melibatkan risiko tinggi yang mungkin tidak cocok untuk semua investor. Pastikan Anda memahami risiko yang terlibat sebelum melakukan transaksi.
– idnfx







