Harga minyak jatuh juga pada akhir sesi perdagangan pada hari Kamis (27/1) sore waktu Amerika Serikat atau Jumat (28/1) pagi WIB. Mengutip di beberapa data, minyak mentah berjangka dengan jenis Brent untuk pengiriman bulan Maret turun sebesar 62 sen ke level US$89,34 per barel. Sedangkan untuk minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman bulan Maret ditutup melemah sebesar 74 sen ke level US$86,61 per barel.
Pelemahan ini terjadi setelah minyak mentah Brent mencapai level yang cukup tinggi yaitu di atas US$90 per barel yang merupakan harga tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sejumlah analis menyebut pelemahan yang terjadi pada minyak jelang akhir pekan ini terjadi akibat tarik menarik sentimen antara kekhawatiran pasar atas adanya potensi pengetatan pasokan yang terjadi akibat memanasnya konflik geopolitik di sejumlah kawasan dengan ekspektasi pihak Federal Reserve AS yang akan segera memperketat atas kebijakan moneter.
Penyebab naiknya Minyak mentah berjangka
Harga minyak berjangka jenis Brent bahkan sempat naik ke atas harga US$90 per barel untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Kenaikan ini terjadi dipicu karena adanya ketegangan antara negara Rusia dan Barat.
Selain itu, kenaikan juga terjadi akibat adanya ancaman gerakan kelompok Houthi Yaman terhadap negara Uni Emirat Arab. Ketegangan itu memicu banyak kekhawatiran pasar bahwa pasokan energi nantinya akan terganggu.
Maklum, negara Rusia merupakan negara produsen minyak terbesar kedua di dunia. Di tengah kekhawatiran itu, pasar sangat terbebani pernyataan dari pihak Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat yang pada Rabu (26/1) mengatakan bahwa mereka berkemungkinan akan menaikkan suku bunga pada bulan Maret dan berencana untuk mengakhiri masa pembelian obligasi bulan itu untuk menjinakkan tingkat inflasi yang sangat tinggi.
Kini konon katanya, pasar mulai mengalihkan sejumlah perhatiannya ke pertemuan 2 Februari. Sejumlah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan juga sekutu yang juga dipimpin oleh negara Rusia, yang merupakan sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+.
Setelah pengumuman itu, mata uang dolar Amerika Serikat naik dan membuat harga minyak tertekan. Pada hari Kamis (27/1/2022), indeks dari dolar yang mengukur greenback terhadap rival enam mata uang perdagangan utama lainnya naik ke level yang paling tertinggi sejak bulan Juli 2021.






