Di hari Rabu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan Ketua Federasi Reserve Jerome Powell mengutarakan kepercayaan mereka pada perbaikan perekonomian AS dalam referensi hari ke-2 mereka di depan anggota Konferensi AS.
Powell bahkan juga mengatakan jika dia memikir tahun 2021 bisa menjadi tahun yang paling, benar-benar kuat dalam skenario yang paling kemungkinan.
Pendapat ke-2 figur hebat AS itu seharusnya menggerakkan ketertarikan resiko pasar. Sayang, satu hari awalnya, Yellen menjelaskan pentingnya peningkatan pajak untuk mengongkosi gagasan pembangunan infrastruktur dan investasi khalayak yang lain diperkirakan oleh Presiden AS Joe Biden.
Sedang Powell memiliki pendapat jika perbaikan perekonomian tidak akan langsung menggerakkan inflasi bertambah secara berkepanjangan.
Ke-2 pesan itu lebih berpengaruh besar di pasar, hingga memacu tindakan risk-off pada beberapa aset high risk seperti saham dan mata uang-mata uang negara berkembang.
Saat itu, launching data rutinitas usaha terkini dari Uni Eropa tidak berhasil mengangkat performa euro. Penangguhan lockdown ketat di Jerman juga hampir tidak diacuhkan pasar.
Masalahnya aktor pasar fokus pada teror gelombang ke-3 COVID-19 dan lambatnya perkembangan vaksinasi di Uni Eropa. Ke-2 permasalahan itu mempunyai potensi memberatkan outlook ekonomi teritori.
Resikonya ialah jika variasi virus yang lebih menyebar dan mematikan memacu tanggapan yang semakin kuat dari beberapa pemerintah Eropa.
Hingga membuat Eropa masih lockdown dalam kurun waktu semakin lama, kata Kim Mundy, ahli taktik dari Commonwealth Bank of Australi.
Penangguhan berarti pada usaha Eropa untuk kembali membuka ekonomi cuman akan melebarkan ketimpangan di antara outlook ekonomi di Eropa dan AS hingga makin mendesak euro.
Opini sama dikatakan oleh beberapa riset dari Bank of America. BofA memprediksi nilai ganti euro-dolar akan diperjualbelikan di seputar 1.18 di akhir Juni, tapi jatuh ke 1.15 pada tahun akhir ini.






