Kurs Pounds turun semakin pada dalam hari Jumat sesudah polling tunjukkan penambahan elektabilitas partai rival PM Theresa May, mendekati pemilu awal yang bakal di gelar tanggal 8 Juni yang akan datang. Walau sebenarnya, buruknya laporan data GDP telah membebani mata uang ini setelahperilisannya kemarin.
Perkembangan GDP Di Bawah Ekspektasi
Waktu berita ini ditulis, GBP/USD telah tumbang hampir 5 % ke kisaran 1. 2882, tingkatkan loss untuk buyer Pounds sesudah anjlok 0. 3 % pada hari Kamis. EUR/GBP semakin menjulang ke level tertingginya mulai sejak Maret di 0. 8689, sementara GBP/JPY turun ke level paling rendah dalam sepekan di 143. 80.
Data GDP Inggris (second estimate) tunjukkan kalau perkembangan ekonomi cuma naik 0. 2% QoQ atau 2% YoY pada kuartal pertama tahun 2017. Ini dibawah angka first estimate pada 0. 3% QoQ, serta tambah lebih rendah dari laju perkembangan kuartal akhir 2016 pada 0. 7% QoQ.
Dalam laporan yang sama, Office for National Statistics (ONS) juga mengatakan kalau ekspor turun 1. 6%, sesaat berbelanja customer melemah dengan mencatat rekor kesibukan rumah tangga terburuk mulai sejak 2014.
Tanda Efek Brexit
Perlambatan GDP ini dinilai sebagai tanda kalau sistem Brexit telah mulai menghantam perekonomian Inggris. Inflasi yang meroket berbarengan dengan lambatnya perkembangan upah bikin aturan beberapa rumah tangga customer jadi semakin tertekan. Beberapa ekonom yang diwawancarai Bloomberg mensinyalir, perkembangan ekonomi selalu lesu selama 2017.
Laporan GDP tersebut bom di konser Ariana Grande terlebih dulu, memukul elektabilitas PM Theresa May dalam polling mendekati pemilu awal yang bakal di gelar tanggal 8 Juni yang akan datang. Polling oleh YouGov serta harian Times atas 2, 052 orang responden tunjukkan kalau elektabilitas partai Konservatif yang digawangi PM May cuma 43%, turun 1 % di banding satu minggu lalu. Sesaat partai Buruh sebagai oposisi terkuatnya malah naik 3 poin ke 38%.






