(06/10/2025) Nilai tukar KRW melemah tajam akibat penguatan USD, di tengah gelombang penguatan dolar global dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi eksternal. Menurut data terbaru, won jatuh ke sekitar 1.410 per dolar, mencatat penurunan tajam dalam tiga sesi berturut-turut.
Tekanan dari Dolar AS yang Menguat
Dolar AS menguat secara luas karena investor beralih ke aset aman setelah ketidakpastian politik di Washington. Kekhawatiran terhadap potensi shutdown pemerintahan AS dan ekspektasi kebijakan moneter yang berubah menjadi katalis utama di pasar global.
Dalam laporan “South Korean Won Falls on Dollar Strength” di TradingView, analis mencatat bahwa penguatan dolar menekan hampir seluruh mata uang Asia, dengan won termasuk yang paling rentan karena ketergantungannya pada ekspor dan sensitivitas terhadap arus modal global.
Kebijakan Intervensi yang Terbatas
Salah satu penyebab tambahan tekanan terhadap won adalah kebijakan intervensi valuta asing yang terbatas. Otoritas Korea Selatan dan AS telah menegaskan bahwa intervensi hanya diperbolehkan untuk meredam volatilitas ekstrem — bukan untuk mempengaruhi nilai tukar secara kompetitif.
Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran di pasar bahwa Bank of Korea (BoK) tidak memiliki ruang yang cukup luas untuk mempertahankan stabilitas won dalam jangka pendek.
Negosiasi Perdagangan dan Ketidakpastian Eksternal
Ketegangan dalam negosiasi perdagangan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat juga memperburuk tekanan terhadap won. Stagnasi pembahasan jalur kerja sama perdagangan, termasuk proposal swap mata uang, membuat investor asing berhati-hati terhadap aset berdenominasi won.
Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik turut memengaruhi. Inflasi Korea Selatan tercatat naik 2,1% pada September, sementara surplus transaksi berjalan menurun menjadi US$ 9,15 miliar — sinyal bahwa tekanan harga dan penurunan ekspor mulai terasa. (Sumber: “Won Holds Ground on Intervention Signals, Balanced Economic Data”, TradingView)
Respons Pemerintah dan Bank Sentral Korea Selatan
Untuk menahan laju pelemahan, otoritas Korea Selatan dikabarkan telah melakukan intervensi ringan di pasar valuta asing, dengan penjualan dolar AS senilai sekitar US$ 800 juta selama kuartal kedua tahun ini. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas pasar tanpa menyalahi kesepakatan kebijakan global.
Namun, pelaku pasar menilai langkah tersebut hanya memberikan efek jangka pendek, karena tren global masih mendukung dolar AS.
Implikasi bagi Ekonomi Korea Selatan
Kelemahan won berpotensi memberikan efek campuran bagi ekonomi Korea Selatan. Di satu sisi, pelemahan kurs dapat meningkatkan daya saing ekspor — terutama bagi sektor teknologi dan otomotif. Namun di sisi lain, nilai tukar yang lemah akan meningkatkan biaya impor energi dan bahan baku, sehingga dapat memperburuk tekanan inflasi domestik.
Investor juga mulai menahan investasi baru karena ketidakpastian arah kebijakan moneter global dan kestabilan nilai tukar regional.
Kesimpulan
Pelemahan won Korea Selatan terhadap dolar AS menggambarkan kondisi ekonomi global yang masih rentan terhadap fluktuasi kebijakan dan ketegangan geopolitik. Selama dolar tetap menjadi aset lindung utama di tengah ketidakpastian global, KRW berisiko terus berada di bawah tekanan.
Namun, beberapa analis menilai bahwa potensi rebound won masih terbuka jika Bank of Korea mulai menegaskan sikapnya terhadap stabilitas harga dan intervensi pasar yang lebih terukur. Dalam jangka menengah, arah pergerakan won akan sangat bergantung pada keseimbangan antara stabilitas eksternal, inflasi domestik, dan sinyal kebijakan dari bank sentral utama dunia.
Disclaimer: Berita ini bertujuan informatif dan edukatif. Trading Forex melibatkan risiko tinggi. Pembaca wajib melakukan riset dan manajemen risiko secara mandiri.







