Sterling melesat mendekati $1.30 pada sesi perdagangan hari Senin 15/Mei/2017 tadi sore. Angka itu sebagai bukti kalau beberapa spekulator sudah memotong pertaruhan bearishnya pada Poundsterling untuk jumlah yang terbesar dalam hampir setahun, dan yang ketiga paling besar sepanjang sejarah.
Banyak pandangan negatif pada Poundsterling menguasai pasar forex mulai sejak referendum Brexit di bulan Juni tahun lalu. Tetapi, mulai mereda mulai sejak PM Theresa May Pemilu Inggris lebih awal di bulan kemarin.
Beberapa ” bear ” Sterling termasuk sejumlah bank besar seperti Deutsche Bank serta Bank of America Merrill Lynch ang menyingkirkan prediksi kurang baik mereka pada Poundsterling. Selain itu dari laporan yang lain juga telah menunjukkan kalau beberapa pemain yang ada di pasar futures Chicago melakukan hal yang sama juga dengan dari dua bank tersbeut. ” Kapitulasi yaitu supirnya. Bears telah menyerah, ” tegas Kit Juckes, Kepala Strategi Forex yang ada di Societe Generale London yang diwawancarai dari Reuters.
GBP/USD terus bergerak naik 0.3% terhadap Dolar AS pada awal sesi perdagangan Eropa untuk hari ini, yaitu berada di kisaran 1.2927. Sedangkan EUR/GBP melemah 0.2% ke level 0.847 hal itu disebabkan menguatnya Sterling.
Sekilas Dolar AS Di Eropa
Terlepas dari data itu, Dolar AS menjadi rival mayor Sterling tengah menghapus lossnya pada mata uang mayor terutama pada Yen. Dolar AS pernah melemah akibat eksperimen misil Korea Utara dan ancaman malware ransomware WannaCry yang menyerang beberapa ratus ribu data di bebrapa computer dunia.
Hingga berita ini di turunkan, belum ada broker forex yang melaporkan terserang virus yang di kirim lewat e-mail ini. Reuters melaporkan, pasar keuangan juga Asia tak terserang karena ransomware WannaCry yang sudah mengunci kian lebih 200, 000 computer di dunia. Selain itu, data tentang Penjualan Ritel AS yang tumbuh dibawah ekspektasi juga ikut menyumbang pelemahan Dolar AS.






