Poundsterling bergerak menembus 1.1200 pada awal sesi Tokyo hari ini. Dimana sebelumnya Poundsterling mengalami pelemahan di angka 1.1022 setelah tertahan di 1.1210.
Pada Jum’at lalu, mata uang poundsterling tidak terpengaruh oleh Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Statistik Nasional Inggris didapatkan bahwa Inggris mengalami kenaikan sebesar 0,2% secara triwulan pada perekonomiannya. Sedangkan data tahunan menunjukkan jika terdapat peningkatan yang signifikan sebesar 4,4% dibandingkan dengan rilis sebelumnya yang hanya di angka 2,9%.
Penyebab penurunan nilai mata uang poundsterling diakibatkan oleh bangun fundamental sektor ekonomi yang lemah, krisis energi yang terjadi, serta tidak adanya kemampuan dalam menciptakan lapangan kerja yang layak yang kemudian menjadi momok krusial bagi para pembuat kebijakan Bank Of England (BOE).
Namun di luar daripada itu, Inggris sendiri mengalami peningkatan dalam hal Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Ditambah lagi, kebijakan BOE yang melakukan pembelian terhadap obligasi yang tengah berlangsung berpotensi dapat mengimbangi dampak kebijakan moneter hawkish sampai pada titik tertentu.
Pada fakta lain menunjukkan bahwa indeks dollar AS akan mengalami penurunan di tengah ekspektasi yang lebih rendah untuk data manufaktur AS. Hal ini memberikan sinyal terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve untuk membawa stabilitas harga ke perekonomian yang kemudian memaksa beberapa perusahaan untuk mengurungkan niat mereka dalam melakukan ekspansi pasar.
Penguatan nilai mata uang pondsterling ini memberikan angin segar kepada Pemerintahan Inggris. Pasalnya, penyebab lain dari pelemahan mata uang poundsterling disebabkan oleh kebijakan Menteri Keuangan Inggris Kwasi Kwarteng tentang adanya pemotongan pajak.
Dengan adanya penguatan nilai mata uang poundsterling ini, tentu berpengaruh besar terhadap Inggris yang berpotensi lolos dari ancaman resesi ekonomi. Selain itu, Badan Statistik Inggris juga mencatat PDB Inggris mengalami peningkatan sebesar 0,2% pada kuartal II/2022 apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang bahkan melampaui proyeksi kontraksi analisis 0,1%.
Penguatan mata uang poundsterling ini memicu adanya rasa optimisme Pemerintah Inggris terhadap stabilitas perekonomian negaranya di tengah gejolak resesi.





