Poundsterling melemah berturut-turut sepanjang beberapa waktu mendekati libur perayaan Natal 25/12.
Pasangan GBP/USD ditutup pada 1.2943 di penghujung hari bursa tempo hari, sesaat EUR/GBP naik setinggi 0.15 % ke posisi 0.8570.
Parlemen Inggris sudah menyepakati garis-garis besar perancangan RUU Brexit yang diserahkan oleh PM Boris Johnson di akhir minggu kemarin.
Tetapi, kesepakatan itu justru memantik ketidakpastian baru, sebab mewajibkan waktu peralihan brexit selesai di akhir tahun 2020.
Akhir minggu lalu, anggota House of Commons melakukan voting pada RUU Brexit yang berisi amandemen berbentuk larangan perpanjangan waktu peralihan sampai melewati Desember 2020.
Voting itu membuahkan 358 suara memberi dukungan serta 234 suara menampik.
Dengan pencapaian itu, RUU Brexit akan melangkah ke House of Lords untuk proses legislasi selanjutnya pada tanggal 7, 8, serta 9 Januari selesai libur Natal serta Tahun Baru Parlemen Inggris.
Inti kekhawatiran aktor pasar serta beberapa ahli terdapat pada larangan perpanjangan waktu peralihan Brexit sampai melewati Desember 2020 dalam perancangan perundangan itu.
Permasalahannya, waktu peralihan ditujukan jadi waktu tenggang dimana Inggris serta Uni Eropa diinginkan akan duduk semeja untuk membicarakan ketentuan perdagangan di antara ke-2 daerah pasca-Brexit.
Banyak analis memandang perundingan perdagangan Inggris-Uni Eropa mustahil usai dalam tempo setahun saja.
Mengakibatkan, nampaklah kecemasan pada peluang No-Deal Brexit atau Hard Brexit tahun kedepan.
Pound turun non-stop semenjak merebaknya isu amandemen polemis dalam RUU Brexit, hingga meniadakan semua kenaikan yang sempat terhimpun sesudah kemenangan partai Konservatif-nya PM Boris Johnson dalam Pemilu 12 Desember kemarin.
Untungnya, perdagangan pasar mendekati libur Natal relatif sepi, sampai trend bearish Pound relatif teratasi.
Kondisi benar-benar sepi, hingga susah untuk membaca begitu jauh ke kejadian penurunan Pound, kata Jane Foley, pimpinan ahli stratego mata uang di Rabobank, seperti diambil oleh Bloomberg.
Dia memberikan tambahan, Meski demikian, jelas Sterling sudah melemah serta pasar menilai lagi berapa besar brexit akan diulas dalam tahun kedepan. Ini cuma rekonsilasi serta realisasi jika efek No-Deal Brexit itu masih riil.







