Notulen rapat bank sentra Jepang BoJ yang diterbitkan tunjukkan jika pembicaraan sekitar kontroversi kebijaksanaan moneter ultra-longgar terus berjalan.
Beberapa anggota menjelaskan BoJ harus bekerja bersama dengan pemerintah untuk lancarkan kebijaksanaan fiskal yang bisa mengatasi perlambatan ekonomi, sebab ekspansi kebijaksanaan moneter akan bawa efek tinggi.
Satu diantara anggota dewan BoJ memeringatkan jika asuransi jiwa akan kesusahan penuhi keharusan mereka bila suku bunga super rendah terus dipertahankan.
Dalam rapat kebijaksanaan yang diselenggarakan pada Oktober 30-31, BoJ sempat menyaratkan peluang memotong suku bunga untuk menahan efek perlambatan global pada perekonomian domestik.
Tetapi, notulen tunjukkan jika pilihan itu belum pasti diambil. Beberapa anggota dewan kebijaksanaan BoJ makin melihat penting kebijaksanaan fiskal untuk melawan perlambatan ekonomi.
Karena makin tidak efektifnya kebijaksanaan moneter ultra-longgar yang sudah diaplikasikan sepanjang sekian tahun.
BoJ harus siap-siap untuk hadapi perlambatan ekonomi selanjutnya sebab ada peluang itu antara skenario efek.
Dengan lakukan hal tersebut, penting tidak untuk cuma ambil langkah kebijaksanaan moneter, tapi menguatkan kerja sama dengan pemerintah contohnya lewat kebijaksanaan fiskal, demikian disebut oleh satu diantara anggota dewan BoJ dalam notulen itu.
Sembilan anggota dewan kebijaksanaan BoJ sekarang masih terpecah dalam melihat pentingnya ekspansi kebijaksanaan moneter longgar.
Beberapa memandang masih ada ruangan untuk melapangkan kebijaksanaan moneter, tapi beberapa yang lain makin cemas pada efek jelek dari kebijaksanaan moneter yang begitu longgar.
Satu diantara anggota pihak ke-2 menjelaskan, Bila yield periode panjang masih ada seputar level sekarang untuk periode yang lama, asuransi jiwa bisa hadapi kesusahan untuk menjaga provisi buat produk asuransi serta peluang tidak dapat penuhi keharusan sosial mereka.







