Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD telah menyebutkan kalau UK bisa memperhitungkan untuk membalikkan Brexit Brexit reversing, dengan menyebutkan jika akan memberi dorongan penting untuk ekonomi UK yang tengah sakit.
Hari Selasa 17/10, OECD rilis survey ekonomi terakhirnya mengenai UK serta memiliki pendapat jika UK mengambil keputusan untuk merubah haluan berkaitan Brexit, baik lewat referendum ke-2, atau pemerintah baru yang mengambil keputusan kalau meninggalkan Uni Eropa tidak cocok dengan keprerluan paling baik UK, bisa memberi keuntungan untuk ekonomi dengan substansial.
” Bila Brexit dibalikkan dengan ketentuan politik perubahan sebagian besar, referendum baru, dsb, akibat positif pada perkembangan yang akan sangat penting, ” kata survey OECD.
Dari sejak lebih dari 50% rakyat UK pilih untuk meninggalkan Uni Eropa dalam bulan Juni yang lalu, ekonomi negara itu sudah melambat dengan penting. Perkembangan dalam dua kuartal pertama tahun 2017 cuma 0, 2% serta 0, 3%, sesaat inflasi melonjak, menghimpit pendapatan reguler beberapa Brits dalam akhirnya. Data dari Office for National Statistics/ONS hari Selasa tunjukkan indeks harga customer CPI UK yang bergerak naik dari 2, 9% jadi 3%, tingkat teratas dalam lima tahun.
Laporan OECD itu menyebutkan kalau UK bisa menangani perkembangan sklerotik serta pengetatan pendapatan cuma dengan tetaplah ada di Uni Eropa, mencatat kalau berpisah dengan Uni Eropa bisa menyingkirkan £40 miliar dari perkembangan PDB UK pada akhir 2019.
UK ambil resiko apa yang dimaksud ” Brexit tidak ada perjanjian ” dimana perbincangan dengan Uni Eropa tidak berhasil serta UK keluar dari blok itu tanpa ada perjanjian apa pun tentang hubungan baru ke-2 pihak itu.
Berikut skenario yang digambarkan oleh OECD jadi ” Brexit yang tidak teratur ” disorderly Brexit :
” Perpecahan perundingan UE-UK, telah membatalkan prospek hubungan perdagangan untuk masa yang akan datang, juga akan menyebabkan reaksi jelek pasar keuangan, mendorong nilai ganti mata uang UK ke tempat paling rendah baru serta mengakibatkan penurunan posisi sovereign. Investasi usaha juga akan naik, serta desakan harga yang bertambah juga akan kurangi mengkonsumsi pribadi. Defisit neraca jalan dapat lebih susah untuk dibiayai, walau ukurannya peluang juga akan menyusut. “






