Laporan paling baru dari International Monetary Fund berisi komentar yang cukup menggemparkan tentang valuasi Dolar AS. Menurut instansi keuangan raksasa itu, Dolar AS sudah overvalued di antara 6 sampai 12 % dibanding mendasar ekonomi periode pendeknya.
Dalam laporan yang sama, IMF memandang Euro, Yen Jepang, serta Yuan China pada umumnya cukup sesuai dengan keadaan mendasar semasing.
Komentar IMF ini sudah sempat menyebabkan Dolar AS melemah pada sejumlah besar mata uang mayor. Bahkan juga, Indeks Dolar AS DXY cetak rekor paling rendah harian pada 97.05 pada session Asia 18/7.
Komentar itu disibak dalam Eksternal Sector Report, satu diantara laporan tahunan yang dikeluarkan IMF tentang nilai tukar mata uang dan surplus serta defisit external dari beberapa negara paling besar di dunia.
Di dalamnya disebut jika surplus laporan keuangan transaksi berjalan masih berpusat di lokasi Euro serta segelintir negara maju lain seperti Singapura. Sebaliknya, keadaan defisit terus dihadapi oleh Amerika Serikat, Inggris, serta beberapa negara berkembang.
IMF kembali memperingatkan jika banyak kebijakan terbaru makin menganggu perdagangan arus global, mengikis kepercayaan pasar, serta mengganggu investasi.
Tetapi, selama ini banyak kebijakan dagang polemis itu belum dapat merubah tidak seimbangan neraca dagang yang diharapkan oleh Amerika Serikat.
Menurut IMF, beberapa negara itu semestinya kerja keras menguatkan skema perdagangan multilateral serta kembalikan liberalisasi pasar, dibanding perang biaya.
Berkaitan perselisihan perdagangan, IMF memandang efek pembiayaan periode pendek condong teratasi sebab tempat debitur masih terkonsentrasi di beberapa negara yang mata uangnya jadi persediaan devisa global. Tetapi, masih ada efek besar buat perekonomian global.
Peningkatan kemelut perdagangan atau hasil brexit yang kalut dengan karena selanjutnya buat perkembangan global serta ketertarikan risiko bisa merubah beberapa negara lain yang benar-benar bergantung pada keinginan asing serta pembiayaan external, papar IMF.
Oleh karenanya, IMF merekomendasikan supaya beberapa negara dengan defisit besar seperti AS serta Inggris memotong berbelanja anggarannya.
Di lain sisi, beberapa negara dengan surplus besar seperti Jerman, Belanda, serta Korea, dapat menggerakkan investasi infrastruktur publik dan menahan simpanan yang terlalu berlebih.







