Pasangan USD/JPY roboh lebih dari 0.5 % dalam perdagangan 3/1, karena eskalasi perselisihan Timur Tengah yang berlangsung jadi resiko dari benturan berturut-turut di antara AS serta Iran.
Serangan udara AS tewaskan satu diantara petinggi militer paling tinggi Iran, hingga di kuatirkan akan memancing aksi balasan dari Teheran.
Penambahan efek ini menggerakkan harga minyak melejit. Di lain sisi, keinginan pada Yen jadi asset safe haven kuat.
Pagi hari barusan, Pentagon memverifikasi jika serangan drone AS di Baghdad sudah tewaskan Jenderal Qasem Soleimani, kepala pasukan elite Quds Iran.
Serangan yang juga sama tewaskan Komandan Milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis. Menurut Pentagon, serangan itu dikerjakan sesuai instruksi Presiden AS Donald Trump jadi usaha defensif membuat perlindungan personil AS di luar negeri.
Sebab Jenderal Soleimani dengan aktif membuat gagasan untuk menyerang diplomat serta staf Amerika di Irak serta semua daerah Timur Tengah.
Kematian Soleimani yang disebut satu diantara petinggi militer paling tinggi Iran ini langsung menggerakkan pemimpin tertinggi-nya, Ayatollah Ali Khamenei, serta beberapa petinggi teras untuk mengumumkan serangan balasan.
Menteri Pertahanan Amir Hatami menjelaskan, Sebuah pembalasan berat akan dikerjakan untuk pembunuhan Soleimani yang tidak adil.
Kami akan mengambil pembalasan dari kebanyakan orang yang terjebak serta bertanggungjawab pada pembunuhannya.
Beberapa aktor pasar juga mencemaskan akan berlangsungnya perang di lokasi Timur Tengah.
Seperti diutarakan oleh Helima Croft, pimpinan taktik komoditi global di RBC Markets, pada CNBC, Ini bawa kita ke pinggir perang beradu tembak penuh dengan Iran -bukan perang proxy atau perang bayangan.
Harga minyak melejit hampir 4 % pada session Asia, jadi efek dari kecemasan itu. Harga minyak mentah Brexit naik 3.98 % ke posisi USD68.90, sedang harga minyak mentah WTI melejit 3.87 % ke posisi USD63.55.
Pasangan USD/JPY sempat juga sentuh rekor paling rendah sebulan pada posisi 107.91.
Tempat harga pasar telah mulai terstabilkan pada session Eropa, tp instabilitas serta kecemasan masih membuntuti aset-aset yang dipandang beresiko terpengaruh.






