Pasangan EUR/USD melompat hampir 0.5 % memasuki perdagangan hari Jumat 11/10, serta bertahan seputar posisi 1.1047 pada awal session New York.
Animo Euro di dukung oleh pelemahan Dolar AS karena perkembangan positif pada saat perundingan dagang bersama China, dan terungkapnya tanda-tanda perpecahan pada badan bank sentra Eropa ECB.
Ketetapan ECB bulan kemarin untuk memotong suku bunga serta mengawali kembali program Quantitative Easing QE sudah menyebabkan silang opini cukup seru antara beberapa pengambil kebijaksanaan.
Beberapa petinggi ECB sepakat jika perkembangan ekonomi Zone Euro memerlukan pertolongan supaya dapat hadapi intimidasi perlambatan.
Tetapi, mereka tidak setuju mengenai kebijaksanaan apa yang pas untuk mengatasi permasalahan itu.
Suku bunga telah jauh dibawah 0, hingga Gubernur ECB Mario Draghi memandang butuh mengeluarkan QE. Namun, banyak faksi memandang QE malah akan membuat permasalahan baru.
Kondisi ini di kuatirkan membuat keadaan transfer kebijaksanaan moneter longgar yang kurang efisien, hingga malah mengangkat nilai Euro.
Euro diperjualbelikan kuat ini hari sebab Dolar AS terdepresiasi dengan luas ditengah-tengah situasi risk-on, kata Simon Harvey dari Monex Europe.
Sambungnya, Notulen rapat ECB tidak memberikan tambahan banyak pada apa yang telah dikatakan dalam pertemuan wartawan, tapi debat sekitar semula QE serta batas pembelian obligasi sudah menggerakkan yield bund obligasi Jerman turun dengan marjinal serta menyebabkan kenaikan minor dalam EUR/USD.
Pada Poundsterling Live, Harvey mengutarakan juga, Komentar yang dibikin Draghi berkaitan utamanya kebijaksanaan fiskal pada tanggal 12 September lebih jelas dibanding artikel Financial Times mengenai pertentangan dalam ECB.
Tetapi bila dikumpulkan, terlihat jika ECB jelas kehabisan amunisi untuk menangani jatuhnya inflasi serta tingkat perkembangan. Paket pelonggaran moneter yang lebih signifikan cuma akan meningkatan resikonya negatif.
Dalam kondisi dimana kebijaksanaan moneter longgar tidak efisien, perbankan serta investor akan mulai menumpuk uang dalam deposito dibanding menyalurkannya ke perekonomian riil.
Ini akan berefek jelek buat perekonomian Zone Euro, hingga perkembangan ekonomi serta inflasi semakin lemah. Namun, ini bisa saja positif buat nilai ganti Euro, sebab ECB akan diminta untuk mengerem pemotongan suku bunga serta QE.







