Index dollar AS DXY terlihat mundur-maju antara posisi 89.00-90.30 dari sejak launching notula pertemuan Federasi Open Pasar Committee FOMC tempo hari.
Greenback sempat pernah kuat sesaat karena FOMC menyentuh mengenai tapering secara tidak tersangka, tapi tempatnya telah melembek kembali saat informasi dicatat 20/5/2021.
EUR/USD menulis peningkatan harian sekitaran 0.16 % pada posisi 1.2195, sementara AUD/USD mendaki 0.35 % ke range 0.7750-an.
GBP/USD konstan dekat posisi penutupannya tempo hari pada range 1.4125-an, belum terlampau jauh dari rekor paling tinggi multi-bulan yang disentuhnya di awal minggu
Notula yang di-launching pada sesion New York tempo hari mengutarakan ada semakin banyak dialog mengenai tapering atas program pembelian obligasi di pertemuan FOMC tanggal 28 April 2021, di luar harapan aktor pasar.
Beberapa petinggi The Fed rupanya merekomendasikan jika pengurangan program pembelian obligasi tapering akan pantas satu saat bila perbaikan perekonomian AS terus posisikan momentumnya.
Pengakuan itu mengagetkan pasar, hingga beberapa investor melepaskan status jualnya atas dollar AS. Meskipun begitu, sebagian besar pasar yakini jika The Fed tetap menjaga pergerakan pembelian obligasi dan posisi bunga sekarang ini. Akhirnya, kurs dollar AS jatuh kembali lagi ke arah rekor paling rendah dari sejak Februari.
Notula The Fed kemungkinan akhiri masa pelemahan dollar belakangan ini untuk saat ini, namun tetap terlampau awal untuk pembalikan trend, kata ahli taktik Commerzbank dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters.
Ada dua argumen khusus kenapa pasar masih melihat bearish pada USD. Pertama, notula memperjelas kembali begitu beberapa petinggi The Fed meremehkan peningkatan inflasi tahun ini.
Itu sesuai dengan pengakuan Ketua The Fed Jerome Powell dan beberapa mitranya sepanjang dua minggu paling akhir. Ke-2 , rapat itu diadakan di bulan April, atau saat sebelum launching data tenaga kerja AS di awal bulan Mei ini yang memperlihatkan kenaikan pengangguran.
Peningkatan inflasi cuman sementara, sedang pasar tenaga kerja belum bisa lolos dari imbas wabah COVID-19. Tidak salah, keadaan ini menggerakkan The Fed untuk menjaga pembelian obligasi masif dan penentuan suku bunga rendah. Factor itu merintangi reli USD selanjutnya dan mengurungnya pada waktu gerakan






