
Harga minyak merosot di hari Rabu, memperpanjang tren menurunnya sejak kemarin setelah Dolar menguat akibat dari menguatnya pasokan minyak AS secara tak terduga serta Pemerintah China yang memperpanjang lockdown Shanghai memperbesar ketakutan terkait turunnya permintaan.
General Manager Penelitian di Nissan Securities Hiroyuki Kikukawa mengatakan bahwa peningkatan stok minyak AS, Dolar yang menanjak dan juga kekhawatiran terhadap keadaan Shanghai membuat tekanan yang besar terhadap harga minyak.
Ia juga menambahkan bahwa harga minyak mungkin akan tetap disekitar 100 Dolar per barel untuk sementara dan kemungkinan tidak adanya konflik di Timur Tengah dalam bulan Ramadhan, namun bisa saja terjadi pergolakan setelah bulan suci tersebut dan mulainya musim berkendara di Amerika Serikat.
Dolar naik hampir menyentuh nilai tertinggi dalam dua tahun terakhir pada hari Selasa, didorong oleh pendekatan hawkish yang dilakukan oleh Federal Reserve yang mengusahakan untuk percepatan pemotongan pada neraca dagang bank sentral yang terlalu gemuk. Dolar yang kuat membuat minyak lebih mahal untuk para pemilik dengan mata uang lain.
Kekhawatiran terkait sanksi Rusia dikarenakan tuduhan kepada tentara mereka melakukan kejahatan perang semakin menyebarkan ketakutan terganggunya suplai.
Permintaan dikhawatirkan menurun akibat pemegang kekuasaan pada China sebagai salah satu importir minyak terbesar, memperpanjang lockdown di Shanghai yang menjadi pusat perdagangan bagi 26 juta orang.
Naiknya cadangan minyak AS menurunkan harga minyak
Persediaan minyak AS naik 1,1 juta barel untuk minggu penutupan Maret. Dibandingkan dengan penarikan sebesar 3 juta barel yang dilaporkan API pada minggu sebelumnya. Para ekonom memperkirakan terjadi penurunan sekitar 1,6 juta barel.
Data API juiga menunjukkan persediaan bensin turun 543.000 barel pekan lalu dan stok sulingan meningkat 593.000 barel. Pusat penyimpanan negara AS melaporkan pada hari Rabu diperkirakan suplai minyak mentah AS minggu lalu turun sebesar 2,1 juta barel.
Persediaan minyak AS meningkat secara tak terduga minggu lalu saat para pedagang menimbang dampak pada permintaan menyusul kebangkitan COVID di China yang menyebabkan kekhawatiran terkait pasokan yang akan berkurang menyusul rencana Eropa yang akan melakukan embargo kepada produk minyak Rusia.
Brent diperjualkan turun 97 sen atau 0,9% ke 105,67 Dolar per barel, sementara WTI turun 98 sen atau 1% menjadi 100,98 Dolar per barel pada 00:29 UTC. Brent jatuh 0,8% dan WTI turun 1,3% pada hari Selasa.





