Dalam perdaangan hari ini DXY alami penurunan 0.28 % ke posisi 95.93 pada pertengahan session Eropa. Pelemahan Greenback disebabkan oleh merosotnya harapan pasar akan kenaikan suku bunga AS tahun ini, sesudah launching data NFP serta pidato pimpinan Federal Reserve pada minggu kemarin.
Di hari Jumat, US Bureau of Labour Statistics memberikan laporan jika Nonfarm Payroll NFP melonjak dari 176k jadi 312k dalam bulan Desember 2018, melebihi harapan awal pada 178k. Akan tetapi, tingkat pengangguran pada periode yang sama alami lonjakan dari 3.7 % jadi 3.9 %.
Beberapa saat lalu, pimpinan Federal Reserve, Jerome Powell, mengemukakan pesar dovish di muka lembaga American Economic Association. Tuturnya, laju kenaikan suku bunga tidak ada dalam satu jalan yang sudah dipastikan serta akan peka pada risiko-risiko yang berlangsung di pasar.
Walau NFP lebih baik dibanding harapan, pengakuan Powell membuat aktor pasar menyangsikan jika bank sentra AS ini akan meningkatkan suku bunga sekitar 2x kembali tahun ini seperti tertera dalam dot plot yang launching Desember 2019.
Walau sebenarnya, Dolar AS melejit saat tahun 2018 karena Federal Reserve adalah bank sentra penting hanya satu yang lakukan pengetatan moneter. Mengakibatkan, saat beredarnya pengakuan Powell, Greenback langsung roboh.
Lepas dari itu, beberapa analis memandang masih tetap ada kesempatan untuk kenaikan suku bunga selanjutnya. Data ketenagakerjaan yang kuat pada Jumat kemarin memberikan indikasi jika ketakutan tentang krisis itu terlalu berlebih, tutur Philip Wee, ahli taktik mata uang di DBS, dalam satu catatan yang diambil oleh Reuters.
Mengingat Fed cuma memproyeksikan penghentian kenaikan suku bunga, pasar nampaknya lakukan tindakan terlalu berlebih dengan mendesak yield obligasi 2-tahunan serta 10-tahunan ke bawah Fed Funds Rate minggu kemarin, lanjut Wee, sekalian menjelaskan jika dia masih tetap menginginkan Fed akan meningkatkan suku bunga 2x kembali dalam tahun 2019.
Selain itu, perseteruan pada Gedung Putih serta Parlemen AS yang menyebabkan terjadinya US Government Shutdown semenjak sebelum Natal, masih tetap selalu berjalan.
Bahkan juga, Presiden AS Donald Trump menyatakan siap menginformasikan keadaan darurat bila aturan pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko yang diharapkannya tidak dipenuhi.
Walau sebenarnya, jumlahnya instansi pemerintah AS yang lumpuh operasionalnya selalu makin bertambah, termasuk juga IRS yang mengatasi perpajakan.






