
Indeks dolar AS mengalami penguatan pada sesi kedua perdagangan kemarin (Jum’at dini hari WIB). Mata uang negeri Pamansam ditutup naik 0,73 persen di level 103.28. Sebaliknya mata uang Euro anjlok 0,92 persen di level 1.06171. Menurunnya nilai Euro diluar ekspektasi, pasalnya nilai Euro turun setelah European Central Bank (ECB) mengumumkan akan menaikkan suku bunga acuannya. Kenaikan suku bunga pada mata uang Euro untuk pertama kalinya sejak 11 tahun yang lalu. Bahkan ECB memberikan sinyal potensi kenaikan suku bunga lebih agresif lagi pada bulan September mendatang untuk mengatasi inflasi.
Sinyal kenaikan suku bunga Eropa tersebut dianggap kurang detail oleh para investor, ditambah adanya kekhawatiran fragmentasi, yaitu perbedaan biaya pinjaman untuk beberapa negara Eropa, justru membuat euro melemah terhadap USD. Menurut ECB, fragmentasi menghambat dalam mengeksekusi kebijakan moneternya.
“Kami tahu QE (pelonggaran kuantitatif) sedang bergulir tetapi mereka sendiri sudah mulai melontarkan gagasan tentang rencana darurat khusus untuk melawan risiko fragmentasi, tetapi mereka belum memberi kami detail apa pun,” kata Kepala Analitik Quant Insight, Huw Roberts, pada Jumat (10/6/2022).
“Reaksi pasar hari ini hanyalah keheningan yang memekakkan telinga – mengapa kita tidak mendapatkan apapun terkait risiko fragmentasi? Dan karena itu, sebagaimana yang biasanya akan dilakukan pasar, kita akan melihat arah pelemahan,” tambah Huw Roberts.
Goldman Sachs mengatakan sekarang memperkirakan ECB akan menaikkan 25 basis poin pada Juli, diikuti oleh kenaikan masing-masing 50 basis poin pada September dan Oktober, sebelum kembali ke kenaikan 25 basis poin pada Desember.
Langkah Pasif BoJ Dalam Menanggapi Laju Inflasi, Membuat Yen Semakin Terperosok Dari USD dan Euro
Mayoritas bank sentral di seluruh dunia telah mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga acuan dalam rangka meredam inflasi. Selanjutnya, para pelaku pasar akan mencermati data terkini inflasi Amerika Serikat (AS). Federal Reserve (FED) dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan moneternya hari Kamis (16/6/2022) dini hari pukul 01.00 WIB. Investor meyakini bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya sebesar 50 basis point, menurut FedWatch Tool CME.
Sebaliknya, Bank of Japan (BoJ) menjadi salah satu dari sedikit bank sentral dunia yang tidak mengambil langkah menaikkan suku bunga acuan saat inflasi naik. Langkah pasif BoJ tersebut menyebabkan Yen jatuh ke level terendah dua dekade terhadap USD, juga level terendah 7,5 tahun terhadap euro. Gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda, hari Rabu (9/6/2022) mengatakan bahwa pelemahan yen tersebut justru positif untuk ekonomi Jepang selama pergerakannya stabil, seraya menambahkan bahwa kebijakan valuta asing bukanlah otoritas BOJ.





