Harga futures minyak mentah sedikit terkoreksi disekitar harga 3 bulan terakhir. Harga minyak mentah pada indeks West Texas Intermediate (WTI) terpantau berada di 120.19 dolar AS per barel hari ini (Jumat, 10/6/2022) pukul 08.29 WIB. Sedangkan kemarin, hari Kamis (9/6/2022) harga sempat menyentuh 123.15 dolar AS per barel.
Salah satu sentimen yang membuat harga minyak menurun adalah kembali ditetapkannya kebijakan lockdown baru-baru ini di sebagian wilayah Shanghai Tiongkok dalam upaya menekan laju penyebaran Covid-19 varian Omicron. Warga distrik Minhang diperintahkan untuk tinggal di rumah selama dua hari untuk mengontrol risiko penularan.
Beberapa pekan lalu Tiongkok menyumbang sentimen kenaikan harga minyak mentah karena Tiongkok menunjukkan data ekspor pada bulan Mei lalu yang tercatat lebih baik dari perkiraan.
Data ekspor Tiongkok tercatat melonjak 16,9 persen dibandingkan setahun sebelumnya, seiring melandainya kurva kasus Covid-19 pada beberapa pekan lalu, sehingga pabrik-pabrik mulai beroperasi lagi dengan kecepatan produksi yang tertinggi sejak Januari tahun ini, bahkan dua kali lipat melebihi perkiraan analis.
“Pembatasan pandemi baru di Shanghai menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan di China,” Kepala Analis Fujitomi Securities Co. Ltd. Kazuhiko Saito memaparkan.
Penurunan Harga Minyak Mentah Ditahan Tingginya Permintaan AS
Penurunan harga minyak ditahan oleh permintaan yang tinggi dari Amerika Serikat. Saat ini AS tengah membutuhkan banyak bahan bakar memasuki masa mengemudi pada musim panas. Disamping itu, persediaan bensin di negeri Pamansam tengah menipis menurut data dari Energy Information Administration (EIA).
“Sulit untuk bisa melihat pelemahan harga yang signifikan untuk beberapa bulan mendatang,” demikian menurut kepala riset komoditas ING, Warren Patterson.
Di sisi pasokan, Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) pekan lalu sepakat untuk mempercepat produksi guna menahan gejolak harga yang tinggi.






