
Dolar AS naik pada Kamis (14/07/2022) di Asia. Inflasi yang tinggi di AS memicu ekspektasi berlanjutnya pengetatan moneter oleh Federal Reserve AS dan arus masuk ke safe-haven di tengah ketakutan pasar akan terjadinya resesi ekonomi. Indeks dolar AS, yang mengukur mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia lainnya, naik 0,43% berada pada level 108,2 pada 12:34 WIB.
USD/JPY naik tipis 0,69% menjadi 138,37. AUD/USD naik 0,06% menjadi 0,676 dan NZD/USD turun 0,09% menjadi 0,6126. USD/CNY naik 0,15% pada 6,7287, sementara GBP/USD turun 0,26% pada 1,1859.
Indeks harga konsumen (CPI) AS naik menjadi 9,1% pada Juni dari tahun sebelumnya, level tertinggi dalam empat dekade. Mayoritas pengamat pasar mengharapkan pembacaan 8,8-8,6% di bulan Mei. Investor bertanya-tanya apakah angka 9,1% menandai puncak inflasi. “negara AS tertekan oleh badai inflasi,” analis Commonwealth Bank of Australia Kristina Clifton menunjukkan dalam sebuah catatan. “Inflasi yang terlalu tinggi meningkatkan risiko FOMC akan terus bertindak agresif dan memicu resesi,” katanya. Ketakutan akan terjadinya resesi membuat dolar semakin memiliki daya tarik.
Pasar mengharapkan kenaikan suku bunga Fed bersejarah menjadi 100 basis poin bulan ini. Presiden Fed Bank of Atlanta Raphael Bostic mengatakan “semuanya ada dalam rencana” untuk melawan tekanan harga. Presiden Fed Bank of Cleveland Loretta Mester mengatakan bahwa laporan IHSG yang tidak merata itu buruk dan bank sentral harus menaikkan suku bunga acuan. Bank sentral global lainnya memperketat kebijakan moneter untuk meredam kenaikan harga komoditas.
Di Asia-Pasifik, bank sentral Singapura secara tak terduga memperketat kebijakan moneter pada hari Kamis, mengirim mata uang naik terhadap dolar AS. Bank central China menyatakan bahwa likuiditas keuangan di pasar antar bank “sangat konsisten”, sebuah sinyal bahwa ketidak mungkinan terjadinya penurunan suku bunga secara signifikan.





