Aktor pasar membahas kemungkinan dirilisnya motivasi fiskal pemerintah Australia dan Quantitative Easing RBA.
Apabila kombinasi kebijakan benar-benar dikeluarkan, maka Australia akan sebagai negara ke 2 selesainya Inggris yang melaksanakan motivasi fiskal dan moneter secara bersamaan.
Memasuki sesi perdagangan hari Rabu, penurunan Dolar Australia sempat ditahan oleh pengumuman PM Scott Morrisson tentang rencana pemberian motivasi fiskal buat perusahaan dan rumah tangga pada rangka menanggulangi dampak endemi virus Corona.
Namun, rencana jelas belum dirilis. Media massa mengklaim jumlahnya akan berada di antara 18-20 Miliar AUD, atau nyaris 1 persen menurut total GDP Australia.
Dari sudut lain, Deputi Gubernur RBA Guy Debelle mengatakan bahwa imbas endemi terhadap sektor pariwisata dan edukasi saja bisa memangkas 0.5 persen berdasarkan GDP Australia kuartal I/2020, yang belum termasuk pengaruh terhadap sektor lain.
Ia pula menyampaikan bahwa dalam beberapa skenario yang akan datang, RBA akan perlu meneruskan Quantitative Easing “QE”. Pernyataan Debelle adalah kejutan bearish buat Aussie.
Gubernur RBA sebelumnya sudah beberapa kali memberitahukan kesediaan buat memutuskan suku bunga super rendah, namun menolak QE dengan tegas.
Perubahan arah dari kebijakan ini memposisikan Dolar Australia pada posisi rentan. Menjadi penantian pasar merupakan QE, tetapi fiskal itu sinyal yang lebih penting pada Down Under dan akan segera dijalankan.
Tapi permanen saja, masih terlalu dini buat menemukan bottom dalam risiko terkait yang mungkin tertekannya outlook pertumbuhan dunia tahun ini yang belum sepenuhnya bisa diambil pasar, tegas John Hardy, pimpinan ahli taktik forex di Saxo Bank.
Hardy menilai masih ada risiko besar yang membayangi sejumlah aset-aset yang memilik resiko tinggi.
Reaksi Aussie kepada tumbangnya bursa saham dalam minggu ini adalah bukti bahwa mata uang tadi masih rapuh terimbas risk aversion pada kalangan investor.






