Beranda Analisa Forex Pound Menurun Setelah Motivasi QE

Pound Menurun Setelah Motivasi QE

522
0
FILE PHOTO: Wads of British Pound Sterling banknotes are stacked in piles at the Money Service Austria company's headquarters in Vienna, Austria, November 16, 2017. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo

Poundsterling stress pada kisaran 1.26-an versus Dolar AS dalam perdagangan Kamis 12/Maret, akibat tekanan bearish yang semakin tinggi pasca pengurangan suku bunga BoE waktu yang lalu.

Kekhawatiran terhadap efek endemi virus Corona yang juga mendorong aktor pasar buat meninggalkan mata uang ini.

Tetapi, terdapat dukungan bagi perekonomian dalam bentuk motivasi fiskal yang akan segera digelontorkan oleh pemerintah Inggris.

Menteri Keuangan Rishi Sunak merilis anggaran spesifik sebanyak 30 Miliar Pound buat menanggulangi potensi melambatnya ekonomi yang disebabkan oleh wabah.

Selain itu, kenaikan aturan belanja sebanyak 175 Miliar Pound akan ditambahkan selama 5 tahun ke depan.

Motivasi akan diberikan pada bentuk refund untuk perusahaan-perusahaan yang terpaksa menaruh perlop berbayar kepada karyawan, pinjaman lunak yang dijamin oleh pemerintah, penghapusan business tax buat perusahaan kecil, injeksi dana segar buat UKM, dan lain sebagainya.

Motivasi fiskal yang dimuat dalam APBN 2020 ini diterjemahkan oleh para analis menjadi dukungan bagi Poundsterling.

Kombinasi suku bunga rendah dan subsidi pemerintah diperlukan bisa menyokong kegiatan ekonomi Inggris tahun ini, di tengah beragam tantangan ekonomi seperti endemi virus Corona dan perceraian menggunakan Uni Eropa.

Rishi Sunak sukses melngkapi ekspektasi pasar secara impresif. Terlepas menurut krisis virus Corona yang sedang meluas, kebijakan fiskal seperti ini dapat diharapkan buat menyediakan donasi perekonomian Inggris.

Poundsterling sekarang masih relatif undervalued, tegas Marc-André Fongern dari MAF Global Forex.

Dalam waktu ini, Inggris merupakan satu-satunya negara asal mata uang primer yang berhasil menggolkan motivasi fiskal dan moneter dengan aslaing berkesinambungan.

Negara-negara lain masih menitikberatkan pelonggaran kebijakan moneter, sementara pemerintah masing-masing enggan buat menambah aturan belanja fiskal.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses