Notulen kedap Federal Reserve AS menerangkan optimisme. Sejumlah pejabat The Fed yakin bahwa suku bunga saat ini dapat dipertahankan selama beberapa waktu ke depan.
Pernyataan itu muncul pada tengah ekspektasi pasar akan satu atau 2 kali pemotongan suku bunga lagi tahun ini.
Dalam kedap yang sudah digelar dalam lepas 28-29 Januari, The Fed tetapkan buat mempertahankan suku bunga di kisaran 1.5% – 1.75 %.
Menyertai keputusan tadi, komite FOMC menyampaikan bahwa Outlook ekonomi telah menguat dari padakan menggunakan perkiraan pada bulan Desember 2019.
Para pejabat bank sentral AS pula menciptidak an sejumlah pernyataan soal potensi bahaya terhadap perekonomian, yang disebabkan endemi virus Corona. Kendati demikian, berita Corona kemungkinan hanya akan dibahas dalam FOMC bulan lalu.
Mereka mengekspektasikan pertumbuhan ekonomi akan lanjut dalam peregerakan yang moderat, terdukung oleh kebijakan moneter akomodatif dan kondisi finansial, tulis notulen FOMC.
Selain itu, sejumlah ketidakpastian perdagangan telah berkurang pada beberapa waktu terakhir, dan ada pula frekuwensi-sinyal stabilisasi dalam pertumbuhan global.
Meski begitu, masih ada ketidakpastian pada Outlook, termasuk efek wabah virus Corona.
Yen Semakin Terpuruk Hingga Dipertanyakan Status Safe Heaven
Status safe haven Yen dipertanyakan, sehubungan menggunakan laporan pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih tidak baik dari ekspektasi dalam akhir tahun lalu.
Kondisi ekonomi Jepang yang juga diperkirakan akan semakin memburuk seiring dengan meluasnya pengaruh wabah virus Corona COVID-19.
Padahal, bank sentral Jepang sudah menggelontorkan terlalu banyak stimulus moneter dan hanya memiliki sedikit pilihan kebijakan buat menggairahkan perekonomian kembali.
Anda melihat potensi kekhawatiran mengenai situasi virus ini mendukung naik emas dan Anda tidak melihat konvoi yang sama pada Yen, istilah Shafali Sachdev sesuai keterangan BNP Paribas Wealth Management.
Kedekatan geografis menggunakan China dan ketergantungan pada China dalam situasi ketika ini tidak mengakibatkan Yen menjadi aset pilihan risk-off.
Sesuai keterangan Sachdev, eksposur Jepang terhadap wabah virus dan data ekonomi yang lemah belakangan ini telah memperburuk kekhawatiran pasar.
Sebagaimana diketahui, Jepang sekarang mempunyai masalah infeksi COVID-19 terbanyak pada dunia setelah China lantaran terdamparnya kapal pesiar glamor Diamond Princess yang membawa ratusan korban di pelabuhan Yokohama.
Apabila tidak terdapat yang menggunakan Yen sebagai pendana lagi, maka kemungkinan tidak terdapat alasan bagi Yen buat dalam perdagangan sebagai safe haven.
Pergerakan harga dalam setahun terakhir atau lebih sudah memunculkan pertanyaan itu, kata Brent Donnelly, seseorang trader forex spot pada HSBC.
Dan menerangkan absensi respons Yen terhadap ketegangan pada semenanjung Korea dan permasalahan AS-Iran beberapa waktu lalu.






