Pasangan USD/JPY datang-datang meroket dalam akhir sesi New York kemarin hingga bertengger dalam kisaran 111.96 hari ini 20/2. Tidak ada rilis data krusial yang melatarbelakanginya.
Sejumlah analis mensinyalir faktor teknikal dalam kondisi likuiditas terbatas-lah yang memicu pergolakan harga.
Pada saat Yen memasuki sesi dalam perdagangan sejalan menggunakan daur faktor makro mis. Pertumbuhan dan hubungan antara Nikkei dan USD/JPY itu rendah atau negatif.
Namun, saat ini bukan termasuk masa-masa itu. Nampaknya posisi bagus dalam portofolio u dibersihkan.
Ingat, kita yang juga memasuki akhir tahun fiskal di Jepang, istilah Viraj Patel, seorang ahli strategi forex sesuai keterangan Arkera.
Ini sudah jelas sekali. Kisaran perdagangan ketat dalam pasar yang tenang diikuti menggunakan pergerakan naik ekslosif melewati taraf resisten mayor.
Pergerakan momentum klasik dan pelemahan pendapatan permanen safe haven pula membawa beberapa dukungan teknikal, istilah John F Hardy, pimpinan pakar tidak tik forex di Saxo Bank.
Sementara itu, sebagian analis lain menilai ada pertimbangan mendasar kuat yang mampu jadi mendukung pelaku pasar buat melepas Yen.
Khususnya data GDP Jepang dalam kuartal IV/2019 yang memberitahuakn kontraksi tajam hingga -6.3 persen gara-gara kenaikan pajak penyang jugalan pada bulan Oktober.
Bayang-bayang deflasi sekali lagi terus memberikan tekanan terhadap Jepang. Menyusul semakin bertambahnya pajak penyang jugalan yang sudah menekan perekonomian pada kuartal sebelumnya.
Untuk saat ini dikhawatirkan imbas virus Corona bisa menyebabkan pertumbuhan kuartalan negatif untuk ke 2 kali berturut-turut, papar Thu Lan Nguyen sesuai keterangan Commerzbank.
Hal itu akan menciptidak an Jepang masuk ke resesi secara teknikal.Ekspektasi inflasi Jepang waktu ini jatuh ke teritori negatif lagi.
Padahal, bank sentral Jepang BoJ telah menjalankan terlalu banyak kebijakan moneter longgar, sehingga mereka dikhawatirkan tidak memiliki opsi memadai lagi buat menopang perekonomian di tengah ancaman impak virus Corona.
Pemerintah Jepang yang juga memiliki tanggungan utang besar , sehingga hanya memiliki kapasitas terbatas buat menyuntikkan stimulus fiskal.
Biasanya kita memprediksi bank sentral akan langsung merespon dalam risiko deflasi misalnya ini dengan pengurangan moneter yang lebih signifikan. Hal itu, pada gilirannya mengklaim depresiasi mata uang dengan signifikan.
Sesuai yang terjadi di Bank of Japan, hal ini harus segera dikonfirmasi dan dipertanyakan mengenai apakah mereka akan bersedia atau bahkan membuat sebuah kelompok dalam mengimplementasikan keputusan moneter untuk lebih longgar.






