Index dolar AS DXY kuat lebih dari 0.3 % ke rekor paling tinggi multi-bulan baru pada tingkat 93.03 dalam perdagangan awal minggu ini 19/7/2021.
Kenaikan kasus infeksi virus Corona semakin meningkat secara global, hingga memukul sentimen pasar.
Mata uang-mata uang high risk seperti dolar Australia, dolar Kanada, dan pound Inggris rontok. Kebalikannya, mata uang safe haven dolar AS dan yen Jepang bekerja lebih baik.
Beberapa riset merekomendasikan supaya trader dan investor berlaku lebih berhati-hati, atau bahkan juga mulai menyisih saja dan wait-and-see untuk memperhitungkan perubahan selanjutnya.
Inggris sudah mengambil mayoritas limitasi sosialnya ini hari. Tetapi, pergerakan penebaran virus Corona di negerinya Ratu Elizabeth II ini masih bertambah.
Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid umumkan jika dia teridentifikasi positif COVID-19, hingga PM Boris Johnson dan Menteri Keuangan Rishi Sunak wajib melakukan karantina mandiri.
Keadaan ini memantik keraguan investor mengenai apa perbaikan perekonomian ke tingkat pra-pandemi betul-betul bisa terlaksana.
Kekuatiran mengenai penebaran virus memacu keruntuhan yield obligasi. Yield untuk obligasi bertautan inflasi yang diedarkan Jerman alami keruntuhan mencolok ke rekor paling rendahnya pada hampir dua tahun akhir.
Aktor pasar cemas penebaran COVID-19 variasi Delta akan menghalangi perbaikan perekonomian dan terus menyulitkan usaha ECB meningkatkan inflasi Zone Euro.
Kita awali menyaksikan pasar FX ikuti pasar obligasi, serta lebih belakangan ini pasar ekuitas, dalam soal memudarnya keinginan untuk peningkatan inflasi, kata Viraj Patel ahli taktik makro global dari Vanda Research.
Kami anggap ialah arif untuk mulai menarik chip dari meja karena bertambahnya resiko kekeliruan peraturan pada dua segi Samudra Atlantik Fed mengetatkan peraturan di tengah-tengah perkembangan termoderasi atau Eropa buka limitasi di tengah-tengah penebaran Delta.
Lepas dari tingkat vaksinasi yang bertambah, kembalinya normalitas pra-corona nampaknya perlu ditanyakan, tutur Ulrich Leuchtmann, kepala penelitian komoditas dan FX dari Commerzbank.
Leuchtmann mengingati jika konsumsi dan produksi tidak kembali lagi ke tingkat 2019, karena itu beberapa berarti dari kemampuan produktif global tidak cuma akan tidak bekerja sementara, tetapi akan terdevaluasi secara tetap.






