Beranda Analisa Forex Virus Corona Italia Hantam Euro dan Dolar

Virus Corona Italia Hantam Euro dan Dolar

542
0

Pasangan EUR/USD balik melemah kurang lebih 0.3% ke kisaran 1.0800-an pada perdagangan hari ini 24/2, meskipun sempat berusaha untuk rebound pada akhir pekan kemarin.

Wabah virus Corona sudah mendorong pelaku pasar buat melepas Euro yang mempunyai eksposur besar di China. Sebagai gantinya, USD malah ditinjau sebagai aset safe haven unggulan.

Beberapa negara mulai dari Korea Selatan, Italia, dan Iran melaporkan meningkat dengan  drastis jumlah wabah virus Corona COVID-19 pada akhir pekan.

Saat ini, Korea Selatan sudah mencatat 760 masalah, Italia lebih berdasarkan 150 kasus, dan Iran sebanyak 43 perkara.

Warga di sejumlah kota di Italia pula dihimbau agar tidak keluar tempat tinggal karena beberapa korban tewas belum bisa dilacak pergerakan sebelumnya.

WHO ketika ini semakin khawatir terhadap bertambahnya jumlah kasus infeksi virus Corona yang tidak berafiliasi sama sekali dengan pusat wabah Wuhan.

Banyak korban baru tidak pernah berkunjung ke sana dan tidak merasa punya kontak menguntukkan orang yang baru saja tiba berdasarkan China.

Selaras dengan kekuatiran ini, pelaku pasar mengalihkan dana mereka menurut aset-aset yang berisiko tinggi ke safe haven. Akan tetapi, Yen Jepang dan Franc Swiss hanya menerima sedikit permintaan.

Lebih banyak trafik masuk ke Dolar AS. Pasalnya, perekonomian AS dianggap menjadi kawasan yang bakal menghadapi dampak paling minim berdasarkan endemi virus Corona.

Jika Anda mengekspektasikan pertumbuhan global akan melemah karena ini maka masih lumrah untuk bertaruh dalam Dolar yang lebih kuat, istilah Morten Lund, seseorang analis menurut Nordea Markets.

Menurutnya, perekonomian AS yang relatif lebih tangguh dan yield obligasi yang lebih tinggi dibanding negara maju lain telah menciptakan USD makin menggiurkan.

Lebih lanjut, Lund mengatakan, Saya memperkirakan Euro/Dolar buat beranjak turun pada jangka pendek, bukan hanya karena peristiwa di Italia, namun karena Zona Euro lebih terekspos pada China daripada Amerika Serikat.

Zona Euro merupakan kawasan yang memproduksi sekitar 30 % suplai di pasar elektronik dan otomotif dunia. Di sisi lain, China adalah konsumen utama yang menjadi pasar bagi lebih kurang 30 % suplai barang elektronik dan otomotif dunia.

 Turunnya permintaan China selama masa endemi virus Corona dikhawatirkan bakal menyebabkan kemunduran signifikan dalam hasil orisinil pabrik Eropa, khususnya Jerman yang ketika ini tengah berada di ambang resesi.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses