Beranda Berita The Fed Tetap Hati-hati, USD Melemah Lagi di Tengah Ketegangan Global

The Fed Tetap Hati-hati, USD Melemah Lagi di Tengah Ketegangan Global

106
0
usd melemah lagi

Apa Penyebab USD Melemah Lagi?

USD melemah kembali pada perdagangan hari ini (17 Oktober 2025), memperpanjang tren penurunan dari pekan sebelumnya. Pasar global menilai komentar Federal Reserve (The Fed) yang tetap berhati-hati, ditambah meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China, sebagai kombinasi tekanan utama bagi mata uang AS.

Pelemahan dolar kali ini menunjukkan bahwa momentum penguatan yang sempat terjadi di awal Oktober mulai kehilangan tenaga. Banyak pelaku pasar kini beralih ke aset lain seperti euro, yen, dan emas, sambil menunggu sinyal lebih jelas dari The Fed mengenai arah suku bunga.

The Fed Pertahankan Nada Dovish

Komentar dari sejumlah pejabat The Fed minggu ini menegaskan bahwa bank sentral masih akan “bertindak hati-hati dan berbasis data” sebelum memutuskan langkah kebijakan berikutnya.
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan, tekanan inflasi memang melambat, namun kondisi ekonomi masih rentan terhadap gejolak global.

Pernyataan ini memperkuat pandangan pasar bahwa pemangkasan suku bunga bisa dilakukan sebelum akhir tahun jika inflasi terus melandai.
Indeks Dolar AS (DXY) tercatat turun sekitar 0,16% ke level 104,10, melanjutkan penurunan dari posisi 104,8 pada awal pekan.
Beberapa analis menyebut pergerakan ini sebagai sinyal bahwa pasar mulai memperhitungkan skenario pelonggaran moneter lebih awal dari yang diperkirakan.

Ketegangan Dagang AS–China Tekan Sentimen Pasar

Selain faktor kebijakan moneter, tekanan terhadap USD juga datang dari kabar pembatasan ekspor teknologi lanjutan ke China oleh pemerintah AS.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran tentang potensi perang dagang baru, membuat investor berhati-hati terhadap aset berdenominasi dolar.

Meskipun ketegangan ini belum berdampak langsung terhadap perdagangan global, banyak pelaku pasar menilai bahwa langkah-langkah proteksionis seperti ini dapat memperlambat pemulihan ekonomi dunia.
Akibatnya, sebagian besar investor beralih sementara ke aset safe haven seperti yen Jepang dan emas, yang cenderung lebih stabil ketika risiko geopolitik meningkat.

Euro dan Pound Memanfaatkan Momentum

Sementara itu, mata uang utama Eropa justru menunjukkan performa positif.
Euro (EUR/USD) naik 0,45% ke kisaran 1,174, dibantu oleh data industri zona euro yang sedikit menguat dan ekspektasi bahwa inflasi di kawasan tersebut mulai terkendali.
Beberapa pejabat European Central Bank (ECB) juga memberi sinyal bahwa tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, menambah kepercayaan investor terhadap stabilitas euro.

Poundsterling (GBP/USD) turut memperpanjang kenaikannya ke 1,3443 setelah laporan menunjukkan kenaikan upah tahunan di Inggris.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa Bank of England (BoE) akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lama dibandingkan The Fed, memberikan dukungan tambahan bagi mata uang Inggris.

Pasar Asia Bergerak Hati-hati

Dari kawasan Asia, yen Jepang (JPY) bergerak stabil di sekitar 148,20 per dolar AS, meski investor masih waspada terhadap potensi intervensi Bank of Japan (BoJ) jika yen melemah lebih lanjut.
Sementara itu, rupee India (INR) sedikit menguat setelah kabar bahwa Reserve Bank of India (RBI) melakukan intervensi besar di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas mata uang domestik.

Di sisi lain, dolar Australia (AUD) sempat menguat setelah data tenaga kerja menunjukkan peningkatan, namun kembali terkoreksi karena harga komoditas global masih berfluktuasi tajam.
Secara umum, pelaku pasar di Asia tetap berhati-hati menghadapi sinyal campuran dari kebijakan The Fed dan dinamika geopolitik dunia.

Harga Komoditas dan Dampaknya pada Mata Uang Lain

Harga minyak mentah dunia turun ke level terendah dalam lima bulan terakhir, memberikan tekanan pada dolar Kanada (CAD) yang sangat bergantung pada ekspor energi.
Penurunan harga minyak ini juga memperkuat persepsi bahwa permintaan global sedang melambat, yang bisa menambah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi di paruh akhir tahun.

Sementara itu, harga emas naik sekitar 0,6%, mencerminkan pergeseran minat investor dari dolar AS ke aset lindung nilai.
Kondisi ini menjadi indikator bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan risiko jangka menengah yang mungkin belum terlihat dalam data ekonomi resmi.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, USD melemah di tengah kombinasi faktor fundamental dan geopolitik.
Sikap hati-hati The Fed dan meningkatnya ketegangan dagang AS–China memperbesar tekanan terhadap dolar, sementara mata uang lain seperti euro dan pound memanfaatkan momentum penguatan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian ekspektasi, di mana investor berupaya membaca arah kebijakan moneter global berikutnya.

Bagi pelaku trading forex, kondisi seperti ini dapat menciptakan peluang sekaligus risiko baru.
Tren pelemahan USD mungkin masih berlanjut dalam jangka pendek, tetapi sentimen dapat berubah cepat jika data ekonomi AS berikutnya menunjukkan kejutan positif.
Kewaspadaan dan disiplin dalam manajemen risiko menjadi kunci utama dalam menghadapi volatilitas yang meningkat di pasar global saat ini.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses