Federal Reserve New York kembali lakukan interferensi ke pasar uang di AS pada Rabu. Banyaknya semakin banyak, yakni US$ 75 miliar atau sebesar Rp 1.000 triliun.
Di hari awalnya, The Fed New York sudah menyuntikkan likuiditas ke pasar uang dengan nilai US$ 53 miliar.
Sesuai keterangan dari AFP, Rabu 18/92019, langkah ini dikerjakan sebab suku bunga utang antar bank di AS tinggi sekali, di atas suku bunga referensi The Fed.
Langkah bank sentra Amerika Serikat AS ini adalah yang pertama-tama berlangsung dalam 10 tahun paling akhir.
The Fed masuk pasar repo satu hari sesudah gejolak pasar menyebabkan lonjakan bunga overnight serta kecemasan jika bank sentra AS tidak dapat mengatur suku bunga acuannya.
Pasar repo berlaku jadi penyuplai periode pendek atas keperluan likuiditas di skema operasi pasar keuangan AS.
Dalam masalah yang ekstrim, keadaan ini dapat menyebabkan kritis keuangan seperti yang berlangsung di Wall Street pada 2008 saat suplai pembiayaan overnight jadi kering diperebutkan lembaga keuangan AS.
Awalnya, Wall Street menanyakan potensi The Fed mengatur pasar keuangan AS sesudah pasar repo mencatat kenaikan bunga overnight Fed Funds Rate ke 2,25%, atau batas atas dari posisi 2-2,25%.
Operasi repo di pasar obligasi lebih ngeri enak sebab tingkat bunga repo overnight melompat sampai sentuh 8,5%.
Yang lebih mencemaskan saya ialah saat ada lonjakan suku bunga di skema keuangan semacam ini, insiden tidak tersangka mulai banyak muncul.
Hal acak yang condong menyebabkan kritis keuangan, papar Guy LeBas.
Aktor pasar di AS berspekulasi jika keadaan ini akan menyebabkan The Fed aktifkan kembali terkait pembelian obligasi AS quantitative easing nya yang polemis, serta peluang membuat rekonsilasi kebijaksanaan yang lain.






