Pasangan mata uang GBP/USD turun 0.50 % ke rata-rata 1.2607, sesaat GBP/JPY anjlok lebih dari 0.45 % ke posisi 136.68. Keruntuhan Poundsterling kesempatan ini menandai penurunan enam minggu berturut-turut.
Tidak seperti penurunan awalnya yang dipacu oleh ketegangan brexit serta kasak-kusuk politik internal, depresiasi Sterling diduga dikarenakan oleh imbas eskalasi perselisihan dagang AS-China.
Dari dalam negeri, ketidakpastian politik masih membuntuti Poundsterling. Sesudah dimakzulkannya Theresa May dari jabatan jadi perdana mentri Inggris, beberapa calon substitusinya dipandang jadi besar probabilitas berlangsungnya skenario terjelek No-Deal Brexit.
Sekarang ini, trader Sterling bahkan juga sudah mempertimbangkan peluang akan dilantiknya Boris Johnson, satu diantara tokoh penting pro-Brexit, jadi perdana mentri baru.
Pound sudah ada dalam desakan tindakan jual tiada henti sesudah riil jika waktu Theresa May jadi perdana mentri telah selesai. Dalam satu bulan paling akhir, Pound sudah melemah tajam sekitar seputar 5 %, kata Lee Hardman dari MUFG.
Sesudah permasalahan internal Inggris diakui, sekarang giliran beberapa faktor external yang menyebabkan gerakan Sterling. Lars Merkin dari Danske Bank menjelaskan jika Pounds telah mempertimbangkan brexit, serta akan diperlukan penggerak non-brexit untuk lemahkan GBP selama musim panas.
Kami anggap pasar akan menyepelekan efek ‘No-Deal Brexit’ jadi penggerak GBP dalam tempo dekat. Sebaliknya, data ekonomi Inggris yang dikit lebih lemah, sentimen global, dan ECB bisa menjadi penggerak EUR/GBP, papar Merklin.
Menurut analis Danske Bank, Pounds rawan pada memburuknya sentimen global sebab efek credit di pasar keuangan akan bertambah juga.
Jika perekonomian dunia melemah ditengah-tengah memburuknya perselisihan dagang AS-China, karena itu ini bisa merubah aset-aset keuangan Inggris dengan negatif. Walau sebenarnya, resiko proses brexit berkelanjutan meneror perkembangan ekonomi Inggris, seperti terlihat dalam data-data terbaru.
Data GDP Inggris paling baru tunjukkan jika perekonomian alami kontraksi pada bulan April. Ini dapat jadi prelude buat hilangnya momen ekonomi yang peluang akan memberatkan Sterling sampai beberapa waktu ke depan.
Trader serta investor butuh waspada peluang ini, terutamanya jika data berbelanja customer serta investasi usaha telah mulai memperlihatkan tanda-tanda perlambatan dengan relevan.






