Nilai tukar Rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini (04/10/2022).
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka melemah sebesar 75,5 poin atau setara dengan 0,50 persen, sehingga berada pada posisi Rp. 15.302 per dollar AS. Indeks dollar AS terpantau naik tipis 0,2 persen atau 0,01 poin ke level 111,76.
Sementara itu, beberapa mata uang di Kawasan Asia terpantau mengalami penguatan terhadap dollar AS pada pembukaan hari ini adalah won Korea Selatan yang naik sebesar 0,41 persen. Dollar Taiwan naik 0,21 persen, yuan China naik 0,13 persen, serta peso Filipina yang naik sebesar 0,08 persen.
Ariston Tjendra, seorang analis pasar keuangan berpendapat bahwa nilai tukar rupiah kemungkinan akan menguat terhadap dollar AS lantaran adanya konsolidasi. Dimana dollar AS disebut akan mengalami tekanan pasca data survei aktivitas maufaktur per September yang menunjukkan perlambatan.
Berdasarkan data ini, juga mengindikasikan jika perekonomian AS sudah mulai terkena imbas negatif dari inflasi serta tingginya suku bunga. Adapun tingkat imbal hasil obligasi AS dengan tenor 10 tahun menjadi cerminan ekspektasi setelah terkoreksi dari 4 persen ke kisaran 3,6 persen.
Ariston juga mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap tingginya tingkat inflasi akan dapat memperlambat perekonomian global dan Indonesia dapat menahan penguatan nilai tukar rupiah pada hari ini. Ariston memberikan prediksi jika penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menuju kea rah Rp. 15.250 dengan potensi resisten pada level Rp. 15.310.
Imbas yang akan diakibatkan apabila nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan adalah mahalnya harga barang – barang yang dibeli dari luar negeri, mahalnya barang – barang ekspor yang berpotensi menimbulkan kecendurungan penurunan terhadap permintaan, melambatnya laju perekonomian, bahkan potensi tingginya laju inflasi.
Lebih lanjut lagi, faktor utama penyebab pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar adalah karena kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, pasar masih berekspektasi jika The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya secara agresif.






