Harga minyak kembali terpuruk dalam sesi perdagangan hari Rabu pagi ini (31/5) sesudah pernah melorot satu % pada hari Selasa. Pasalnya, kecemasan pasar berkaitan limpahan surplus minyak global tidak cuma bersumber dari meningkatnya produksi Amerika Serikat, tetapi juga Libya.
Produksi Minyak di Libya Naik Drastis
Pagi ini, harga kontrak minyak mentah berjangka Brent yang umum jadi referensi internasional, alami penurunan 12 sen dari jumlah harga penutupan Selasa ke angka $51.72 per barel. Disamping itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang di produksi Amerika Serikat turun 19 sen ke $49.97 per barel.
Trader yang diwawancarai Reuters menyampaikan kalau penurunan harga minyak kesempatan ini disebabkan oleh data output yang lebih tinggi dari Libya. Menurut laporan dari National Oil Corporation, perusahaan BUMN yang mengelola minyak Libya, produksi diprediksikan naik ke 800, 000 barel /hari (bph) minggu ini.
Ini bermakna ada kenaikan yang cukup penting dibanding dengan data rerata ekspor Libya yang disimpan oleh Thomson Reuters Eikon. Rerata ekspor mulai sejak awal tahun 2017 cuma sebesar 500,000 bph, sedang data pengapalan tahun 2016 cuma mencatat volume sejumlah 300,000 bph.
Dikhawatirkan akan memberikan tekanan terhada Usaha OPEC
Kenaikan produksi minyak Libya ini menaikkan kerisauan pelaku pasar, di dalam tingginya laju penambahan produksi AS tahun ini. Kesibukan pengeboran minyak shale di AS telah naik kian lebih 10% mulai sejak pertengahan tahun 2016, semakin mendekati level dari produksi negara produsen minyak paling besar Rusia serta Arab Saudi.
Tingginya produksi AS serta Libya dikhawatirkan dapat menumpulkan usaha Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) serta produsen minyak yang lain yang kemarin barusan menyepakati perpanjangan perjanjian pemangkasan output mereka sampai Maret 2018. Libya adalah anggota OPEC, namun di beri pengecualian dari perjanjian itu, atas pertimbangan beragam perseteruan bersenjata yang menempa negerinya.





