Pasangan GBP/USD turun hampir 1 % ke rata-rata 1.3150-an dalam perdagangan hari pertama tahun 2020. Pound turun dengan jarak hampir serupa versi Yen Jepang sampai sampai rata-rata 142.90-an.
Cuma pasangan EUR/GBP yang terus bergumul dalam rata-rata terbatas seputar posisi 0.8490.
Beberapa unsur melatarbelakangan stres Pound kesempatan ini, tapi analis optimistis mata uang itu akan sembuh kembali meskipun ada beberapa intimidasi kuat.
Launching data ekonomi Inggris ini hari 2/1 tunjukkan hasil survey Purchasing Managers’ Index untuk bidang manufaktur alami penurunan dari 48.9 jadi 47.5 pada bulan Desember 2019.
Tidak hanya masih ada dalam keadaan kontraksi, angka itu dibawah perkiraan pasar yang menginginkan pemulihan tipis ke posisi 47.6.
Menurut IHS Markit, penurunan dikarenakan oleh merosotnya pesanan baru dari luar dan dalam negeri karena ketidakpastian outlook politik, perdagangan global, serta ekonomi.
Namun, beberapa ahli mensinyalir penurunan khususnya karena peristiwa diselenggarakannya survey sebelum penyelenggaraan pemilu Inggris. Oleh karena itu, ada keinginan untuk penambahan di hasil survey setelah itu.
Mengikuti kemenangan mutlak partai konservatif dalam pemilu serta hasilnya yang mengeliminasi efek No-Deal Brexit dalam periode pendek.
Kami menginginkan output manufaktur untuk terstabilisasi pada kuartal pertama tahun 2020 karena menyusutnya ketidakpastian, walau perlambatan global masih berjalan, papar Samuel Tombs dari Pantheon Macroeconomics.
Dengan teknikal, Karen Jones dari Commerzbank London memandang potensial Pound ke depan masih bagus.
Tuturnya, Outlook GBP/USD itu positif. Di akhir tahun kemarin, pair ini bereaksi serta sembuh dari MA 55-Day pada 1.2977 sekarang.
Rekor paling rendah pada 23 Desember ialah 1.2908, serta di atasnya, kami akan mengasumsikan bias naik untuk mengetes rekor paling tinggi Desember pada 1.3515.
Selain itu, aktor pasar akan menyorot tarik-ulur di antara Inggris serta Uni Eropa dalam jalani perundingan dagang selama saat peralihan brexit, minimal sampai akhir tahun 2020.
PM Boris Johnson yakini mereka cuma memerlukan waktu setahun untuk sampai persetujuan dagang yang masak saat brexit, tapi Uni Eropa sudah menjelaskan jika waktu perpanjangan peluang akan dibutuhkan.
Ketidaksamaan opini ini dapat punya pengaruh pada arah gerakan Pound nantinya.







