
Dolar naik sedikit demi sedikit pada pembukaan perdagangan hari Kamis sementara Euro melemah efek dari harga minyak yang semakin tinggi. Harga minyak naik pada minggu lalu sebesar 5% karena macetnya pasokan ekspor dari Rusia dan Kazakhstan.
Faktor lain yang memicu harga minyak adalah persiapan pengumuman sanksi yang lebih keras yang akan disiapkan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden, bersama para pemimpin negara Eropa kepada Rusia dalam perjalanan ke Eropa.
Biden di hari Rabu melakukan perjalanan pertamanya ke Eropa semenjak perang Ukraina dimulai, bertemu NATO dan para pemegang kekuasaan negara Uni Eropa dalam pertemuan darurat di Brussels. Dikatakan bahwa salah satu topik pembahasan Amerika ialah menyasar anggota parlemen Rusia.
Harga komoditas berbagai komoditas berangsur naik akibat eskalasi situasi perang Ukraina, menyebabkan tekanan lebih kepada tingkat inflasi karena faktor berkurangnya suplai. Laju tingkat inflasi yang semakin tinggi juga memaksa banyaknya bank sentral, termasuk Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga demi menahan pergerakan inflasi.
Pengamat ekonomi dari Quant Insight mengatakan bahwa banyak aliran dana yang tidak ingin melakukan perputaran di Eropa karena perang Ukraina secara geografis berada dekat dengan negara Uni Eropa. Dana tersebut akan bergerak keluar dan kemungkinan besar menuju Amerika Serikat.
Para pelaku pasar mengatakan bahwa sanksi yang terlalu keras akan memberikan efek yang amat besar sehingga dapat mengganggu perdagangan global.
Laju inflasi mendorong harga Dolar
Inflasi di Inggris naik lebih cepat dibanding perkiraan bulan lalu pada titik tertinggi dalam 30 tahun terakhir sebanyak 6,2%. Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak memotong pajak dari pekerja dan menurunkan bea minyak sebagai cara untuk memudahkan pengeluaran masyarakat ditengah tingginya harga bahan pokok dan melemahnya perkembangan ekkonomi.
Pada hari Selasa, Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda mengucapkan bahwa karena tekanan inflasi dapat membahayakan perekonomian negara, maka Jepang harus mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar tersebut.
Perdagangan Kamis pagi dibuka dengan naiknya harga Dolar pada bursa Asia, yang mendapatkan dorongan dari bangkitnya berbagai harga komoditas dari tren buruknya.
Index Dolar menunjukkan Dolar mengungguli mata uang lainnya dengan menguat sebesar 0,18% di angka 98,790 (4:08 UTC). Yen mencatatkan angka terendah dalam enam tahun terakhir pada angka 121,41 per Dolar, sementara Pounsterling diperdagangkan pada angka $1,3207, turun 0,42% dibanding hari sebelumnya yang mencentuh harga tertinggi dalam tiga minggu terakhir sebesar $1,3298.





