Hasil launching data Non Farm Payrolls (NFP) AS bulan Mei yang di bawah perkiraan mengakibatkan USD kembali melemah versus mata uang paling utama serta emas minggu lalu, terkecuali versus mata duit komoditi CAD serta AUD. Terlebih dulu USD pernah menguat akibat perkiraan NFP versus ADP yang bakal jadi bertambah 253,000 job, namun serupa dengan NFP bulan Maret, perkiraan ADP untuk Mei juga meleset jauh dibanding hasil launching biro statistik yang cuma jadi bertambah 138,000 job.
Bukan sekedar itu, pelemahan USD juga diperparah dari revisi data sebelumnya, di mana NFP bulan Maret direvisi turun dari 79,000 ke 50,000 job, serta bulan April dari 211,000 ke 174,000 job, hingga rata-rata bertambahnya job dalam 3 bulan paling akhir cuma 120,670. Gaji rata-rata per jam bln. April direvisi turun dari +0.3% ke +0.2%, serta tingkat partisipasi bln. Mei turun dari 62.9% ke 62.7%. Tingkat pengangguran bulan Mei yang meraih 4.3%, paling rendah mulai sejak Mei 2001 tidak berdampak signifikan terhadap USD.
Dari data di atas terlihat tren pasar tenaga kerja selalu turun dalam 3 bulan paling akhir, akan tetapi banyak analis yang memprediksi The Fed tetaplah bakal menambah suku bunga referensi sebesar 0. 25% pada meetingnya minggu depan. Namun untuk kenaikan selanjutnya dalam tahun ini masih tetap jadi sinyal bertanya, pastinya bakal bergantung dari hasil data fundamental setelah itu atau data dependent, bukanlah markets dependent.
Tak ada data utama dari AS sampai FOMC meeting minggu depan. Satu diantara moment yang bakal di perhatikan pasar yaitu kesaksian bekas direktur FBI yang dipecat presiden Trump, James Comey, didepan komite intelejen senat yang gagasannya dijadwalkan dalam minggu ini. Kesaksian tentang sangkaan keterlibatan pemerintah Rusia pada saat pemilu presiden AS itu dapat beresiko pada agenda mengajukan reformasi pajak ke kongres serta gosip pemakzulan Trump. Greenback diprediksikan masih tetap bakal condong melemah.
Konsentrasi pasar minggu ini yaitu penentuan umum di Inggris serta ECB meeting. Seperti di ketahui perdana menteri Theresa May sudah ajukan jadwal pemilu dari yang semestinya tahun 2020 jadi hari Kamis 8 Juni yang akan datang, manfaat memperoleh mandat untuk memimpin negosiasi sistem Brexit dengan Uni Eropa, bila partainya menang.





