Pasangan USDJPY minggu kemarin bergerak bearish dari penutupan minggu sebelumnya yang kuat tipis. Minggu kemarin pair ditutup dengan pengurangan 0,64%.
Minggu kemarin situasi pasar mengalami situasi yang muram oleh banyak sentimen negatif yang lemahkan perdagangan asset risiko.
Masuki perdagangan akhir session Amerika Senin 27/7/2020, posisi pair bergerak turun ke posisi paling rendah 4,5 bulan pada posisi 105.10 yang memberi respon kuatnya kembali lagi keinginan asset safe haven.
Pelemahan pair dipacu oleh anjloknya posisi dolar pada banyak lawan intinya dan secara indeks turun ke posisi paling rendah dari sejak September 2018.
Sentimen pasar bersambung muram awal minggu ini memberi respon bertambahnya pergerakan bertambahnya masalah baru terkena covid-19 penjuru dunia dan bertambahnya kemelut AS-China mengejar penutupan konsulat China di Houston serta dibalas dengan penutupan konsulat AS di Chengdu oleh China.
Dari sisi data ekonomi banyak launching data ekonomi yang bisa menjadi pasar mover minggu ini terutamanya dari Amerika Serikat.
Minggu ini akan ada rapat tatap muka kebijaksanaan bank central AS FOMC serta data advance PDB AS kuartal ke-2 yang akan jadi koncentralsi pasar.
Kecuali dari laporan ekonomi, sentimen pergerakan masalah baru terkena covid AS, kemelut AS-China dan keinginan rangsangan penambahan negara besar terpengaruh pandemi.
Untuk penggerak dari ekonomi Jepang, awal minggu ini BoJ sudah meluncurkan risalah tatap muka BOJ bulan Juli serta data BoJ Core CPI semakin tinggi dari era sebelumnya.
Selanjutnya tengah minggu akan dikeluarkan data Pemasaran ritel yang sudah menulis tiga pengurangan beruntun, diprediksikan akan ada pada -6,0%.
Selanjutnya akhir minggu akan dikeluarkan data pengangguran dan data prelim produksi industri yang diprediksikan ekspansi dari mulanya negatif.
Dari ekonomi Amerika Serikat, kecuali hasil tatap muka FOMC akan dikeluarkan beberapa data ekonomi yang diprediksikan memperlihatkan data yang kurang optimistis sesuai awal minggu diberikan launching data durable goods orders.
Selanjutnya ada pula launching data sentimen customer CB, data pending home sales, data personal spending serta data PDB AS untuk Q2-2020. Tetapi ada data yang diprediksikan positif sesuai data core PCE indeks serta data manufaktur Chicago PMI.






