Tahun yang buruk bagi mata uang Jepang tidak lama lagi akan berakhir. Walaupun mata uang yen kembali menguat dalam beberapa bulan terakhir, mata uang ini masih berada di jalur yang tepat untuk menutup tahun ini dengan menelan kerugian sebesar 8 persen terhadap dolar AS. Kesenjangan likuiditas yang terjadi juga berkontribusi pada fluktuasi nilai yen.
Hal ini bisa terjadi, karena adanya penolakan Bank Sentral Jepang (BoJ) untuk menaikkan suku bunga. Memang benar jika saja yen baru saja menemukan pemulihan terbaru dengan sebagian besar terjadi karena spekulasi bahwa bank sentral asing di Amerika Serikat dan Eropa akan memotong suku bunga secara agresif tahun depan, yang juga berhubungan dengan masalah likuiditas yang ada di pasar.
Yen Masih Menunggu Sinyal Bank of Japan (BoJ)
Dengan hal inilah, mata uang seperti dolar sampai euro sudah kehilangan sebagian besar keunggulan suku bunganya dibandingkan yen. Walaupun ada angka inflasi yang tinggi, Bank of Japan masih tidak bersedia dalam menaikkan suku bunga. Ini karena belum yakin bahwa dorongan inflasi ini akan berkelanjutan.
Supaya hal tersebut bisa terealisasi, pejabat BoJ harus melihat masalah percepatan pertumbuhan upah. Karena dari sinilah nanti akan bisa memberikan penekanan ekstra pada negosiasi upah musim semi antara perusahaan besar dan serikat pekerja besar.
Di mana pasar untuk saat ini sudah menetapkan probabilitas sebesar 80 persen bagi BoJ dengan tujuan demi bisa menghentikan suku bunga negatif pada bulan April, tepatnya ketika negosiasi upah akan selesai. Peristiwa pekan depan tentu saja akan membantu dalam membentuk penetapan harga ini dan mendorong yen sesuai dengan hal tersebut.
Dengan acara ini dimulai tepat pada hari Senin dengan diisi adanya pidato Gubernur BoJ Ueda. Selanjutnya pada hari Selasa, data ketenagakerjaan negara tersebut untuk bulan November akan dikeluarkan ke pasar. Akan tetapi, acara utamanya mungkin akan diselenggarakan pada hari Rabu, ketika ringkasan opini dari pertemuan terbaru BoJ dikeluarkan.






