Akhir bulan November nanti, OPEC juga akan kembali membuat pertemuan internal sebagai lanjutan pertemuan mengenai penilaian prinsip pemangkasan produksi minyak sebesar 1,8 juta bph di Wina, Austria.
Sebagian pengamat minyak termasuk juga Stephen Brennock pada PVM Oil Associates menyebutkan kalau OPEC mesti menangani banyak hal yang tidak di ketahui yang dapat membayangi cahaya putih untuk kelangsungan harga minyak yang akan semakin tinggi.
Dalam perdagangan sebelumnya muncul tiga problem paling utama yang saat ini sedang dihadapi OPEC untuk menjaga harga serta supply minyak dunia sesuai keterangan dari Brennock, yakni yang pertama yaitu dibebaskannya Libya serta Nigeria dalam restriksi produksi minyak sebesara 1,8 juta bph dari OPEC.
Ke-2 negara itu dibebaskan dengan berbagai alasan yang masih tetap menimbulkan perseteruan internal di berbagai negara itu hingga tahun yang lalu masih mengalami kontraksi atau sejumlah penurunan produksi minyak dengan diluar dugaan .
Tetapi Nigeria serta Libya sudah memberikan jumlah keseluruhnya produksi minyak OPEC yang sebesar 694 ribu bph bulan Januari sampai bulan September yang kemarin, kata Brennock. Pembebasan 2 negara itu buat usaha OPEC untuk mengekang produksi keseluruhannya makin susah dikarenakan problem kontrol serta koordinasi pada OPEC dengan ke-2 negara itu masih sulit untuk dilakukan.
Problem yang ke-2 yaitu problem kecurangan yang begitu mudah dikerjakan oleh anggota yang memiliki komitmen membatasi produksi itu, menurut Brennock.
Masih terkesan tersalah satu berbagai kepatuhan anggota OPEC untuk membatasi produksi itu masih layak diapresiasi, tetapi anggota yang datang dari produsen minyak non-OPEC banyak yang tidak mematuhi restriksi itu, hingga seperti kita saksikan harga begitu susah naik.
Kecurangan sampai kini sudah berhasil tertutupi dari usaha Arab Saudi serta Rusia, salah satu negara produsen minyak paling besar didunia yang turut dalam prinsip restriksi itu.
Sedang problem yang ke-3 dihadapi OPEC yaitu problem perang yang seringkali berlangsung di sebagian negara anggota OPEC, tambah Brennock. Libya serta Nigeria telah dibebaskan dari restriksi produksi dikarenakan masih tetap belum juga amannya bagian internalnya. Yang terakhir yaitu Irak yang tengah menegang kontra Kurdi.
Aspek perang ini, buat negara produsen minyak paling besar ke-2 di OPEC alami penyusutan ekspornya yang umumnya 600 ribu bph turun sampai setengahnya. Walau Irak sendiri sulit untuk ditata tentang produksinya, tetapi OPEC juga tidak bisa mengontrol dengan penuh hasrat dari Irak terlebih ikut serta dalam soal kedaulatan negaranya.






