Pasangan NZD/USD kembali gagal mendaki ke atas tingkat psikologis di posisi 0.6700. Tempatnya mundur sebesar 0.3 % ke rata-rata 0.6664 pada akhis session Asia hari ini 7/8/2020.
Aktor pasar memperhitungkan pengakuan kebijaksanaan bank sentra New Zealand RBNZ minggu kedepan tetap dovish, sesaat eskalasi perselisihan AS-China kembali bergejolak.
Hasil survey Reuters paling baru atas 13 ekonom meramalkan suku bunga RBNZ tetap ada pada 0.25 % tahun ini, serta cuma akan turun ke posisi negatif di tahun 2021.
RBNZ diprediksikan akan menjaga kelonggaran moneter dengan tingkatkan quantitative easing lebih dari pada NZD60 Miliar yang telah digulirkan sekarang ini.
Kami memprediksi ekspansi program QE tetap jadi pilihan pertama RBNZ dalam sediakan rangsangan pada Pengakuan Kebijaksanaan Moneter Agustus, karenanya efisien dengan ongkos semakin mudah, kata Liz Kendall.
Tapi sentimen RBNZ menyaratkan mereka siap untuk melakukan tindakan semakin jauh dari QE bila diperlukan hingga QE dapat dinaikkan sampai NZD90 miliar dalam 18 bulan ke depan.
Berdasar perkiraan ini, launching pengakuan kebijaksanaan RBNZ di hari Rabu akan datang bisa menjadi sorotan pasar. Jika RBNZ rupanya memberi signal untuk suku bunga negatif bersimpangan dengan harapan pasar, karena itu NZD/USD rawan terkoreksi.
Situasi ekonomi dalam negeri New Zealand sekarang ini memang tidak terpukul seburuk harapan yang sebelumnya.
Tingkat pengangguran telah menyusut, inflasi naik, pasar perumahan masih kuat, serta indeks keyakinan usaha sembuh secara cepat karena kepercayaan massa pada kebijaksanaan pemerintah membendung pandemi COVID-19.
Tetapi, lintas negara masih ditutup sebab kenaikan masalah COVID-19 di penjuru dunia yang lain.
Tertutupnya tepian itu mempunyai potensi mendepresi industri pariwisata yang ada New Zealand sudah berperan besar buat GDP nasionalnya.
Pemerintah NZ juga memprediksi tingkat pengangguran akan naik kembali pada beberapa waktu ke depan.
Disamping itu, perselisihan AS-China terus menghangat serta memberikan ancaman pemulihan ekonomi global. Presiden AS Donald Trump kemarin menyetujui perintah eksekutif untuk memblok aplikasi TikTok serta Wechat dalam 45 hari yang akan datang.
Beberapa faksi mensinyalir China tidak akan ambil langkah balasan yang begitu agresif, mengingat Beijing telah lama memblok banyak aplikasi luar negeri.
Tetapi ada kecemasan jika China akan memperlancar tindakan balasan yang bisa memotong market share perusahaan-perusahaan multinasional Amerika Serikat seperti Apple serta Microsoft.






