Dalam perdagangan hari ini Selasa 2 Oktober, kurs Rupiah pada Dolar AS melemah hampir satu % hingga menyentuh angka Rp15,040 untuk pertama kalinya dari tahun 1998.
Penembusan itu bisa disaksikan pada basis FX_IDC yang mewakili niali tukar dari pasar uang spot. Selain itu, surat keterangan sah JISDOR yang diurus Bank Indonesia cuma tunjukkan penurunan 0.56 % dari Rp14,905 ke Rp14,988.
Semenjak Bank Indonesia meningkatkan suku bunga referensi 7DRRR hari Kamis lalu dalam rencana menanggulangi depresiasi, nilai tukar Rupiah sudah bertahan di sebesar Rp14,900.
Namun, mata uang dengan lambang Garuda ini pada akhirnya anjlok ikuti trend mata uang yang lain untuk wilayah Asia.
Memasuki perdagangan ini hari, hampir semua mata uang dari Asia bergerak melemah. Cuma Renminbi Tiongkok saja yang berhasil bergerak menguat peluang sebab intervensi bank sentral.
Dari situasi Indes Dolar AS DXY bergerak menguat sebesar 0.30 % ke 96.35-an terkait ditandatanganinya pembaharuan pakta trilateral dalam perdagangan Amerika Utara NAFTA di Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko.
Sesuai keterangan dari Kontan, Putu Agus Pransuamitra (Monex Investindo Futures), megklaim pelemahan rupiah lebih didominasi oleh aspek external.
Tidak hanya sebab pembaharuan NAFTA, ada juga dampak dari normalisasi setelah muncuk kebijakan Federal Reserve pada suku bunga referensi AS. Ditambah lagi, Federal Reserve diprediksikan akan meningkatkan suku bunga sekali lagi dalam tahun ini, dan akan naik 3 kali di tahun 2019, serta 1 kali di tahun 2020.
Di lain sisi, ada harapan di kelompok analis jika laju inflasi negatif di bulan September, bisa menahan kurs Rupiah turun selanjutnya. Berdasar pada data paling baru dari Tubuh Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan Senin kemarin, Indonesia alami deflasi sebesar 0.18 % (month-over-month) pada bulan September 2018.
Deflasi itu mengantar laju inflasi Indonesia melambat ke level paling rendah dua tahun pada level 2.88 % (year-on-year), turun dari 3.20 % pada bulan Agustus.
Dengan begitu, inflasi diproyeksikan tetap akan dalam sebesar 2.5-4.5 % dalam tahun 2018, sama dengan sasaran inflasi yang sudah dipastikan oleh Bank Indonesia.






